Oleh Nazhori Author
Gayanya ketus dan bikin gregetan. Itu mungkin gambaran yang cukup unik untuk mewakili seorang anak yang usianya kira-kira 5 tahun saat saya membeli kerupuk kulit di sebuah warung persis di pojok jalan dekat rumah saya. Keberadaan anak itu di warung hanya untuk jajan makanan ringan dan murah yang kian marak di warung-warung sederhana sekitar rumah kita.
Maklum di tengah gencarnya teknologi makanan siap saji, jajanan pasar tradisional mulai tergeser perannya di masyarakat. Saya mungkin atau anda barangkali sudah jarang atau bahkan tidak menemui lagi jajanan pasar seperti kue cucur, gemblong dan yang lainnya-lainnya di sudut-sudut warung sekitar kita. Jajanan pasar itu kini tergantikan oleh makanan siap saji yang beredar di masyarakat dengan target pasarnya anak-anak dengan kemasan menarik.
Kembali kepada seorang anak yang bikin gregetan di atas, ada kejadian menarik dan bikin pegel saat kita tertawa. Dengan sorot mata yang pasti anak itu membeli jajan dengan menunjukkan tangannya pada sebuah makanan siap saji seraya suara sedikit cadel keluar dari mulutnya. Oom beli Oom ….ini chiky katanya. Padahal pada brand itu sendiri ada namanya yang dikemas dengan warna kuning itu. Penjual dengan sabar melayani dan mengguntingnya dari satu rentetan yang tergantung rapi.
“Berapa Oom halganya?”
“Lima ratus jawab.” sang penjual.
“Gope aja Oom…,” ketusnya.
“Gope sama saja dengan lima ratus,” ungkap Si Penjual.
Tapi anak itu bersikeras mengatakan gope. Dengan wajah bingung anak itu tidak beranjak pergi dari warung. Dalam hatinya Ia masih bertanya-tanya apa itu gope dan lima ratus. Yang ia tahu hanya sekeping uang logam berwarna putih dengan nama gope. Akhirnya setelah diberi pengertian oleh penjual si anak beranjak pergi dengan gembira meski penuh tanda tanya.
Drama di atas, sesungguhnya seringkali kita temui dan dialami oleh seorang anak. Dan orang tua secara tidak sadar telah mengajarkan sesuatu yang menurut penulis keliru. Karena orang tua membiasakan mengenalkan sesuatu kepada anak-anak berdasarkan trend bukan bentuk dan nama aslinya. Alhasil ini yang terjadi, anak mengalami verbalisme. Anak mengerti uang tapi tidak tahu besaran nominalnya. Hal ini juga untuk memberi pengertian kepada anak mana uang yang nominalnya besar dan kecil yang boleh ia terima untuk jajan sehingga anak tidak diajarkan bersikap konsumeristik sejak dini
Padahal dari peristiwa itu, kita dapat mengambil pelajaran bahwa keberanian anak membeli sebuah jajanan di warung merupakan prestasi belajar yang harus dihargai sehingga anak dapat berinteraksi secara sosial dengan orang lain dan lingkungannya sekaligus membimbing anak untuk secara dini mengenal angka atau bilangan secara sederhana meski anak belum bisa berhitung.
Verbalisme, demikian pakar pendidikan menyebutnya. Orang dewasa bahkan anak sekalipun banyak yang mengerti istilah atau nama tapi tidak tahu hakikatnya. Contoh sederhana lainnya dapat ditemui sehari-hari dengan permainan bulutangkis. Anak-anak kita sering menyebutnya raket. Padahal raket adalah salah satu alat yang digunakan untuk bermain bulutangkis. Karena sudah terlanjur dikenal raket kata bulutangkis tersingkirkan. Atau seorang anak yang duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) mereka lebih mengenal surat alam taro ketimbang al-Fiil dalam Juz ‘Amma.
Para orang tua atau orang dewasa seringkali mengajarkan sesuatu yang dikenalkan pada anak bukan hakikat yang sebenarnya. Padahal itu sangat mengganggu anak untuk bisa mengenal lebih jauh sesuatu dan perbendaharaan kata yang belum dikenalnya. Pada hakikatnya anak tidak memerlukan bahasa yang njlimet, anak hanya memerlukan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti yang dapat mendukung bahasa lisannya agar lebih baik.
Sehingga anak dapat mencerna dengan baik dan mengerti apa yang diketahuinya. Situasi ini setidaknya dapat dilakukan dengan memberikan bahasa lisan sebelum bahasa tulis (oracy before literacy). Misalnya dengan memberikan kesempatan pada anak untuk belajar membaca dan menulis kata-kata sederhana. Atau bisa juga dengan jalan bercerita yang dialami seorang anak dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga anak mendapatkan kesempatan untuk menggunakan kemampuan bahasanya untuk menceritakan kembali apa yang sudah dialaminya. Di samping itu, anak belajar untuk mengenal bentuk kata, mengenal awal, tengah dan akhir sebuah cerita yang membantunya mengenal kosa kata baru.
Mengingat ingatan anak bersifat pendek, dan cara berpikirnya yang melompat-lompat dan mudah hilang, maka seiring bertambahnya usia anak pola asuh dalam belajar anak yang menyenangkan dan tidak memaksa sesunguhnya sangat membantu anak untuk memahami konsep suatu hal dari proses imajinasi serta abstraksinya. Wallohu ‘alam bishowab
_________
Penulis adalah Alumnus Jurusan Tarbiyah (Pendidikan Agama Islam) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.
Tinggal di Gunungputri, Bogor.
Email penulis: author_lagi@yahoo.co.id
Incoming search terms for the article:
- pengertian verbalisme
- verbalisme
- arti verbalisme
- Verbalisme adalah
- surat alamtaro
- pengertian verbalism
- pengertian verbalis anak usia dini
- mengenal bahasa tulisan melalui bahasa lisan
- istilah kata verbalisme
- gope
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Belajar Bisnis Internet | Panduan Hosting Gratis |
Belajar Wordpress



