Kami memutuskan mudik lewat jalur selatan. Pertimbangannya, secara geografis lebih dekat, dan biasanya lebih rindang. Jalannya yang berkelok-kelok malahan membuat kita terpaksa melek. Ini berbeda dengan jalur Pantura yang panas, bagus dan lurus, kadang mudah mengantuk sekali.
Perbedaan yang kami rasakan adalah tempat peristirahatan sepanjang jalur itu. POM bensin relatif jarang, dan kalau ada hanya beberapa yang bagus dan besar, itupun toiletnya hampir semua buruk sanitasinya. Airnya sulit, padahal ‘kan jalur hijau sepanjang jalan. Dalam pengertian saya jika banyak tanaman, hutan, bukankah airnya bagus? Saya selalu melamunkan ini, sesudah keluar dari Pom Bensin.
Sulitnya air berpengaruh dengan pengadaan air bersih di masjid-masjid sepanjang jalur selatan. Memang kami tidak berhenti tiap ada mesjid. Tapi minimal sepanjang tahun, mudik lewat selatan selalu kami dapati airnya buruk.
Hati saya sedih dan terganggu sekali. Seharusnya kita masih dapat berbuat banyak apalagi kalau hanya berusaha menyumbangkan pemikiran atau menghubungkan dengan donatur bagaimana caranya agar kita bisa melihat dan sholat di mesjid yang airnya baik, bersih….di mesjid manapun, di utara di selatan di barat atau di lingkungan kita sendiri.
Di jalan saya ingat-ingat untuk mengkalkulasi berapa biaya yang dibutuhkan membuat sumur bor yang dalam. Jadi kita jangan kasih uangnya, tapi bawa peralatan dan tukangnya sekalian. Aduh alangkah indahnya……….. jadi mudik sambil bawa truk he he … kapan ya?
Barangkali tidak usah bersamaan waktu mudik ya, kita data saja mesjid yang kita tahu tidak ada airnya… mungkin dilingkungan kita sendiri.
Di Pasanggrahan Serang Banten, kami bergotong royong mendirikan mesjid. Alhamdulillah sekarang hampir selesai. Barangkali 90%, sudah bisa dipakai sholat. Setelah gambarnya rampung, hal lain yang tak kalah penting yang kami, panitia, fikirkan adalah bagaimana membuat sumur bor yang dalam, karena disanapun gersang bukan main kalau kemarau.
Saya ingat waktu kecil kalau kemarau tiba kami harus melintasi kebun dan alang-alang (kalau tidak dikatakan hutan) untuk mendapatkan atau menjangkau air. Luar biasa perjuangan yang lumayan susah.
Terbayang kalau tamu mesjid yang sekedar mau melepas lelah setelah sholat, harus melintasi hutan begitu, untuk wudlu dsb. Nah dengan link yang panitia punya (rata rata berdomisili di Jakarta) kami hubungi beberapa donator atau perusahaan yang punya kepedulian dengan pembangunan sarana ibadah. Singkat kata kami dapatkan donator. Jadi perusahaan tersebut membiayai pembangunan tempat wudlu lengkap dengan air yang baik, menggunakan jasa subkonnya Pertamina. Dengar-dengar katanya mengebor sampai hampir 100 meter ! Sampai sekarang airnya masih lancar sekali. Tinggal penduduk setempat harus bisa memelihara. Biasanya hal ini juga jadi masalah tersendiri. Tapi paman saya tiap minggu dari Jakarta selalu menyempatkan diri ke Pesanggrahan itu, melihat-lihat kebersihannya dan finishingnya.
Saya tersadar lagi kalau saya sedang melamun. Seperti biasa, saya co-pilot yang baik, cerewet mengingatkan hati hati, go…, awas, ngantuk ya? Atau mijitin supaya fresh gitu, maklum kami ngga pakai sopir.
Sepertinya kita-kita bisa ya, merem saja nunjuk mesjid mana yang mau dibuatkan toilet yang bagus, atau dibuat program di perusahaan sendiri.
Biasanya ‘kan menjelang lebaran di perusahaan, kita mengadakan program bagi-bagi zakat dan sodaqoh, puluhan atau bahkan ratusan juta bagi-bagi sembako. Bukannya tidak penting bagi-bagi sembako, tapi coba dicanangkan tiap tahun buat sumur bor satu saja…………Barangkali ini bukan ide baru, saya sangat percaya, tapi lebih sebagai katakanlah…. ke”ingetan” lagi…………………
(catatan perjalanan mudik – jalur selatan 10 Oktober 2007)
Sphere: Related ContentAnda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan |
Bisnis Hosting



