oleh Zulfikar Akbar
Bisa saja terbetik beragam alasan untuk seseorang menulis. Untuk kepuasan batin, untuk popularitas, atau untuk apapun. Tidak ada yang salah terkait dengan apapun yang melandasi seseorang untuk menulis.
Namun, saya melihat, landasan untuk menulis sangat berpengaruh pada ‘power’ dari sebuah tulisan yang dihasilkan. Disini saya mencontohkan dengan tulisan Imam al Ghazali dengan tulisannya yang masih bertahan ratusan tahun dan sampai sekarang masih dengan mudah bisa ditemui dalam beragam bahasa-bahasa dunia. Sebut saja Ihya’ Ulumuddin—sebagai satu contoh dari banyaknya penulis kesohor lainnya—, sebuah tulisan yang tidak saja dibaca oleh Muslim kendati yang dibahas dalam buku ini tidak jauh-jauh dari nilai dan kandungan dalam Islam, namun juga dibaca oleh banyak non-muslim.
Dari situ tercetus tanya dikepala saya, bagaimana sebuah tulisan itu bisa memiliki energi sebegitu kuat, sehingga bisa bertahan sedemikian lama. Sebelumnya, sempat tersimpulkan dikepala saya beberapa kemungkinan:
1. Ilmu yang dimiliki oleh penulisnya yang sudah sedemikian tinggi
Cuman, jika ini menjadi penyebabnya, saya sendiri bingung, apa yang bisa dijadikan sebagai indikator kuat seseorang bisa dikatakan bisa berilmu tinggi. Karena tentu saja, kekuatan sebuah pengetahuan tidak bisa disamakan dengan tokoh kanak-kanak Power Rangers, kekuatannya terukur dari kemampuan mereka yang selalu bisa menaklukkan semua musuhnya. Ini jelas berbeda.
2. Waktu pencarian pengetahuan yang lama
Ya, bisa saja ini benar. Sebab dengannya akan membuat seorang penulis bisa memiliki banyak komparansi, banyak perbandingan yang selanjutnya akan dengan sendirinya menjadi suplemen terhadap kekuatan tulisannya. Tetapi saya tidak yakin ini sebagai sebuah kemutlakan.
3. Proses penghayatan yang maksimal
Juga bisa jadi ini benar. Hanya saja, ini juga terasa mengambang. Karena ini melahirkan satu tanda tanya baru, pada titik mana sebuah penghayatan bisa dikatakan maksimal.
4. Orientasi
Belajar dari beberapa penulis—lepas apapun genre tulisannya—, mereka terlihat memang mengabdi penuh pada tulisannya. Apa yang bisa membuat tulisannya menarik? Selain, terasa benar, mereka seringkali menulis dan melihat tulisannya tidak serta merta dari sudut pandang pribadi saja, tetapi juga melihatnya dari pandangan luar dari dirinya. Intinya, saya sedikit teryakinkan, keobjektifan sebuah tulisan sangat berpengaruh pada power tulisan tersebut.
Sejauh itu, saya kira, ini semua memang juga masih bisa dan sangat berpeluang untuk diperdebatkan.
______
Zulfikar Akbar.
http://www.fickar.multiply.com
http://ficklaotze.wordpress.com
Incoming search terms for the article:
- untuk apa menulis
- cache:6GkvS9symlMJ:www family-writing com/curhat/doa-untuk-sahabat html/ doa untuk sahabat yang meninggal
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
|
Belajar Jadi Affiliate Sukses Cocok Untuk pemula yang masih gaptek banget dengan bisnis online. |
Panduan Bisnis Clickbank Panduan Terbaik Jualan di Clickbank dengan cara SEO dan Adwords. |






October 9th, 2008 at 8:05 pm
bagi saya menulis itu sebagai ekspresi suara hati yang terkuak.terlepas dari kuakan hati kita apakah akan mendatangkan dollar atau tidak. Tetapi dollar dari segala dollar adalah dollar di akherat karena tulisan kita bisa mewarnai kehidupan ini