<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Emansipasi dan Hak Anak</title>
	<atom:link href="http://www.family-writing.com/opini/emansipasi.html/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.family-writing.com/opini/emansipasi.html/</link>
	<description>saat-saat keluarga menulis cinta dan impian</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Jun 2010 07:10:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Nuning</title>
		<link>http://www.family-writing.com/opini/emansipasi.html/comment-page-1/#comment-9</link>
		<dc:creator>Nuning</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 10 Sep 2007 05:18:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.family-writing.com/?p=27#comment-9</guid>
		<description>Tulisannya sangat menarik, karena saya termasuk perempuan pekerja yang akhirnya memutuskan berhenti bekerja karena anak saya masuk kelas remedial ketika harus ditinggal keluar kota selama 2 minggu :-(

Saya hanya ingin komentar sedikit: &quot;emansipasi&quot; adalah jargon developmentalis yang berusaha memberikan peran terhadap perempuan di ruang publik akibat kegagalan mengidentifikasi peran ekonomi perempuan di wilayah domestik (ekonomi rumah tangga) dalam GDP.

Saya pikir dikotomi publik-privat dalam bidang ekonomi harus dibuat lebih cair dengan menghitung usaha rumahan sebagai ekonomi produktif dalam statistik nasional, oleh karena itu perempuan tidak perlu merasa rendah diri jika harus bekerja di sektor &quot;domestik&quot; yang pada kenyataannya adalah produktir itu.

Tetapi, walaupun harus bekerja di sektor publik tempat bekerja sebaiknya gender-friendly (gender ini salah satu kata yang &quot;dimsuhi&quot; seperti emansipasi, padahal ia punya arti yang baik). Misalnya: salah seorang mahasiswa saya yang bekerja di Bappenas pernah mengadaka survey bahwa perempuan memerlukan 50% air lebih banyak dan 50% waktu lebih panjang di toilet. Berdasarkan analisa kebutuhan itu, maka WC perempuan harus lebih banayk jumlahnya dari WC pria. Atau perempuan membutuhkan waktu khusus untuk menyusui bayi atau bersama anaknya selama ia bekerja. Ini juga salah satu prinsip gender-friendly karena memperhatika kebutuhan gender yang berbeda.

Anyway, di Indonesia gender-friendly workplace masih sangat langka sehingga jika perempuan bekerja selalu meghadapi dilema pengasuhan anak. Hanya ada tempat2 tertentu saja yang sudah mengaplikasikan ini.

Alhamdulillah di tempat saya mengjar (Kajian Wanita UI) sudah gender-friendly. Mahasiswa yang baru melahirkan suka boleh membawa bayinya agar bisa disusui, juga jika saya mengajar saya sering mengajak anak saya untuk ikut di kelas, saya beri dia kertas, pensil, crayon, atau buku2 bergambar, jadi ketika saya mengajar dia sibuk sendiri dengan dunianya di kelas saya.

Anyway, terima kasih untuk thoughtful writing-nya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisannya sangat menarik, karena saya termasuk perempuan pekerja yang akhirnya memutuskan berhenti bekerja karena anak saya masuk kelas remedial ketika harus ditinggal keluar kota selama 2 minggu <img src='http://www.family-writing.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya hanya ingin komentar sedikit: &#8220;emansipasi&#8221; adalah jargon developmentalis yang berusaha memberikan peran terhadap perempuan di ruang publik akibat kegagalan mengidentifikasi peran ekonomi perempuan di wilayah domestik (ekonomi rumah tangga) dalam GDP.</p>
<p>Saya pikir dikotomi publik-privat dalam bidang ekonomi harus dibuat lebih cair dengan menghitung usaha rumahan sebagai ekonomi produktif dalam statistik nasional, oleh karena itu perempuan tidak perlu merasa rendah diri jika harus bekerja di sektor &#8220;domestik&#8221; yang pada kenyataannya adalah produktir itu.</p>
<p>Tetapi, walaupun harus bekerja di sektor publik tempat bekerja sebaiknya gender-friendly (gender ini salah satu kata yang &#8220;dimsuhi&#8221; seperti emansipasi, padahal ia punya arti yang baik). Misalnya: salah seorang mahasiswa saya yang bekerja di Bappenas pernah mengadaka survey bahwa perempuan memerlukan 50% air lebih banyak dan 50% waktu lebih panjang di toilet. Berdasarkan analisa kebutuhan itu, maka WC perempuan harus lebih banayk jumlahnya dari WC pria. Atau perempuan membutuhkan waktu khusus untuk menyusui bayi atau bersama anaknya selama ia bekerja. Ini juga salah satu prinsip gender-friendly karena memperhatika kebutuhan gender yang berbeda.</p>
<p>Anyway, di Indonesia gender-friendly workplace masih sangat langka sehingga jika perempuan bekerja selalu meghadapi dilema pengasuhan anak. Hanya ada tempat2 tertentu saja yang sudah mengaplikasikan ini.</p>
<p>Alhamdulillah di tempat saya mengjar (Kajian Wanita UI) sudah gender-friendly. Mahasiswa yang baru melahirkan suka boleh membawa bayinya agar bisa disusui, juga jika saya mengajar saya sering mengajak anak saya untuk ikut di kelas, saya beri dia kertas, pensil, crayon, atau buku2 bergambar, jadi ketika saya mengajar dia sibuk sendiri dengan dunianya di kelas saya.</p>
<p>Anyway, terima kasih untuk thoughtful writing-nya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
