DUNIA PARENTING | Bisnis di Rumah | Bisnis Hosting | KIRIM ARTIKEL | PENDAFTARAN JADI PENULIS

Selamat datang di Blog Family Writing

Tanpa kita sadari, ternyata banyak hal tak bisa kita ungkap dengan berbicara. Anehnya ketika tercurah lewat tulisan, gelora itu melesat keluar begitu saja. Jiwa kita terbebas dengan keluarnya kata demi kata.

Kita semua pasti punya cerita. Tak peduli kita penulis profesional atau bukan. Karena itu kami undang Anda menuliskan cerita-cerita Anda. Caranya mudah sekali. Bergabung, lalu Login dengan username dan password Anda, lalu mulailah bercerita. Ayo Bergabung! Klik Disini.

 
TRAINING GRATIS MEMBANGUN BISNIS ONLINE DAN INTERNET MARKETING, 100% GRATIS!
Jangan sampai terlambat! Hari ini daftar, dan langsung praktek. Benar-benar GRATIS! Klik Disini!
  EBOOK BARU: CARA MENGATASI BERBAGAI KESULITAN MENGAJAR ANAK BISA DAN SUKA MEMBACA
Ebook Plus Bahan-Bahan Mengajar dengan pendekatan Multi-Metode Download Disini!
Tue
4
Sep

Emansipasi dan Hak Anak

Posting bymaya

oleh: Maya A. Pujiati

Emansipasi mungkin kata yang paling menyenangkan bagi perempuan dewasa, namun bisa jadi merupakan kata yang menyebalkan bagi anak-anak. 

Bagaimana tidak, emansipasi membuat ibunya bisa bekerja di luar rumah, meninggalkan mereka hanya dengan pembantu atau nenek-kakek yang sebenarnya sudah lelah mengurus anak kecil.

Realitas zaman modern menuntut serba banyak kepada setiap orang untuk bekerja keras, tak terkecuali kaum ibu. Hal itu ternyata memicu persoalan baru dalam hal pengasuhan anak-anak. Karena para ibu harus juga bekerja untuk menambah pemenuhan ekonomi keluarga, anak-anak terpaksa harus dititipkan kepada orang lain.

Hal itu kini menjadi lumrah namun juga menyisakan pertanyaan, bagaimana nasib anak-anak di masa yang akan datang. Jelas masa depan mereka bukan hanya terletak pada persoalan terjaminnya pendidikan formal atau terpenuhinya kebutuhan materil. Masa depan anak-anak juga menyangkut bagaimana mereka nanti memandang hidup dan bagaimana mereka menentukan peran-peran apa yang harus mereka jalani.

Whitney Housten bilang dalam bait pertama Greatest Love of All, “I believe that children are our future” (Aku percaya bahwa anak-anak adalah masa depan kita). Keyakinan akan hal itu tidaklah berlebihan. Anak-anak yang bermental kuat, cerdas, dan bahagia, akan memberi kemungkinan lebih besar bagi mereka untuk bertahan menghadapi masa depan yang jauh lebih bersaing. Orang tua yang mampu menghasilkan anak-anak berkualitas tentu akan hidup lebih berbahagia di masa tua.

Membiarkan anak-anak hidup tanpa pengasuhan yang baik di masa kecil hanya menanamkan “saham” untuk melemahkan mereka di masa dewasa. Tantangan abad ini dalam pengasuhan dan pendidikan anak bukan hanya berhadapan dengan canggihnya teknologi, namun bertambahnya pula kecanggihan kriminal dan “racun-racun” penghancur  perilaku dan norma. 

Televisi dan lingkungan hari ini memiliki peran yang besar dalam membentuk kepribadian dan kecenderungan anak-anak. Anak-anak yang lebih banyak hidup dan berinteraksi dengan pembantu secara tidak langsung akan mengadopsi berbagai kebiasaan yang dilakukan para pembantunya. 

Pendidikan para pembantu pada umumnya hanya lulusan SMP bahkan lebih rendah, dan mayoritas di antara mereka tidak memiliki bekal pengetahuan tentang mengasuh dan mendidik anak. Apa yang bisa kita harapkan dari mereka saat menjaga anak-anak kita. Biasanya anak-anak akhirnya bebas menonton televisi tanpa penyaringan sama sekali. Kalau pembantu suka nonton film India, ya anak-anak juga ikut-ikutan nonton film India. 

Otak anak-anak yang masih terbuka untuk beragam input, baik input negatif maupun positif, akan menyerap semua yang bisa mereka lihat dan mereka dengar hampir seratus persen. Dengan kata lain, kalau saja kita menginginkan anak-anak yang positif, maka kita harus bisa memastikan bahwa apa yang masuk ke dalam otak mereka juga hal-hal yang positif.

Meremehkan  input yang diperoleh anak-anak usia dini, secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita telah merelakan anak-anak menjadi apapun, walaupun akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi negatif.

Ruang Kerja Peduli Anak
Pekerjaan merupakan salah satu sumber motivasi untuk melanjutkan hidup dan merasa berarti dalam hidup. Perempuan pun jelas berhak atas hal itu.

Namun menjadi ibu menuntut sesuatu yang agak berbeda. Anak-anak lahir dengan satu identitas kemanusiaan yang juga harus dihargai. Kita memang tidak perlu secara hitam-putih memandang anak-anak dan pekerjaan sebagai dua kubu yang berlawanan. Kehadiran anak-anak semestinya justru bisa memberikan inspirasi lain tentang pekerjaan dan aktualisasi diri, selain dari apa yang hari ini dikerjakan masyarakat.

Mungkin tidak banyak kantor yang mengizinkan karyawannya membawa anak balita ke tempat kerja. Hal itu merupakan persoalan yang cukup berat bagi para ibu, terlebih bagi para ibu yang memiliki anak-anak di bawah usia dua tahun. Hak bayi atas air susu ibunya terampas oleh peraturan kantor yang seperti itu, dan para ibu juga menderita karena harus memompa air susu yang menggumpal akibat tidak disusukan kepada bayinya.

Emansipasi yang nampak memukau, pada faktanya seringkali berwujud kebebasan semu. Kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik-lah yang akhirnya riang, karena bisa lebih gampang mengeksploitasi potensi perempuan, baik kecerdasannya, kemolekannya, daya tahannya yang tinggi untuk mengatasi kelelahan, kesabarannya, ketelitiannya, ataupun kemampuannya untuk bernegosiasi. Namun balasan atas berbagai eksploitasi di ruang-ruang ekonomi dan industri  itu justru banyak merugikan perempuan dan anak-anaknya.

Lingkungan kerja yang peduli anak-anak merupakan solusi penyeimbang dan penyambung dua persoalan perempuan-bekerja yang sudah berstatus ibu. Perusahaan yang mempekerjakan para ibu idealnya memiliki tempat penitipan anak atau lebih bagusnya lagi arena bermain anak-anak. Kalau mungkin, bahkan didirikan Play group dan TK fullday yang lokasinya berdekatan dengan kantor tempat ibunya bekerja, sehingga anak-anak masih bisa bertemu ibunya di waktu istirahat. Selain itu, dekatnya tempat kerja dengan anak-anak minimal akan mengurangi kadar stres ibu mereka.

Keseimbangan
Dr. Qaimi, dalam sebuah buku terbitan Cahaya, berjudul Menggapai Langit Masa Depan Anak, mengatakan bahwa pekerjaan merupakan sumber kebahagiaan umat manusia, yang menjadikan tubuh dan jiwa sehat dan kuat. Para nabi sepanjang sejarah mendorong umat manusia untuk selalu giat bekerja dan berusaha.

Bahkan Nabi saw yang mulia menganggap pekerjaan merupakan kewajiban. Fatimah Az Zahra, puteri Rasulullah saw, sekalipun sibuk merawat dan mendidik anak, tetap giat bekerja di waktu senggang dengan memintal kapas, menggiling gandum, dan melaksanakan berbagai pekerjaan. Tentu saja hal itu dapat beliau lakukan, karena Imam Ali r.a mau berkhidmat untuk menjaga anak-anaknya saat beliau bekerja.

Memang benar bahwa mencari nafkah bukanlah kewajiban perempuan. Akan tetapi, tidaklah pula menjadi salah jika seorang ibu memiliki  kegiatan “ekstrakurikuler” selain mengurus keluarga. Rambu-rambu yang harus dipegang hanyalah menjaga agar para ibu tidak terlalu sibuk dan menjadikan pekerjaannya lebih utama dari mengurus keluarganya.

“Berkantor” di Rumah
Sebenarnya, pada beragam keadaan dan alasan, ketika seorang ibu memilih untuk bekerja, baik  karena ingin memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarganya atau hanya sekedar untuk menyegarkan pikirannya dari sesuatu yang rutin, para ibu masih bisa melakukannya tanpa harus meninggalkan anak-anak. Caranya adalah dengan “berkantor” di rumah.  

Di era digital seperti sekarang, sesungguhnya jenis pekerjaan atau kegiatan ekonomi tidak lagi harus terhalang oleh kendala-kendala jarak. Hal itu nyaris bisa teratasi dengan baik dengan penggunaan teknologi yang semakin canggih. Telepon seluler dan internet memungkinkan setiap orang untuk bekerja di manapun dengan klien yang tempat tinggalnya berjauhan bahkan hingga di belahan bumi yang lain.

Oleh karena itu, berkantor di rumah merupakan pilihan yang patut diperhitungkan. Hari ini, home-office bukanlah sesuatu yang mustahil, dan bahkan menjadi semakin populer. Sudah banyak orang melakukannya dengan pertimbangan efisiensi dan untuk menjaga intensitas pertemuan dengan keluarga. Langkah berikutnya tinggal memilih bidang-bidang apa yang akan dijadikan objek usaha “rumahan”. 

Menjamurnya kios penjual voucher elektrik di rumah-rumah adalah contoh kecil dari peluang ekonomi yang dapat dikembangkan para ibu. Bahkan beberapa waktu terakhir ini peluang untuk membuka loket pembayaran listrik dan telepon juga terbuka lebar. Semuanya dapat dilakukan di rumah, tanpa meninggalkan anak-anak.
Beberapa ibu yang pandai memasak juga berpotensi untuk mengembangkan usaha rumahan. Sudah banyak contoh ibu-ibu yang sukses di bidang kuliner dengan berbekal semangat berani mencoba. Mereka berhasil membangun usaha yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga serta punya waktu yang cukup bersama anak-anak.

Selain itu, para ibu yang memiliki wawasan luas dan kemampuan intelektual yang cukup tinggi dapat menjual keterampilan-keterampilan khusus yang dimilikinya untuk melayani pasar yang sesuai. Misalnya saja jasa penerjemahan dan editing naskah bagi lulusan bahasa, jasa pembuatan laporan keuangan bagi lulusan akuntansi, jasa design grafis, menulis buku, dan lain sebagainya.

Meski tanpa embel-embel emansipasi, beragam tuntutan hidup mungkin tak terelakkan lagi membuat para ibu pun harus ikut menambah rupiah. Namun sekiranya masih bisa bekerja paruh waktu sehingga memungkinkan anak-anak tetap terawasi dan terasuh dengan baik, sungguh bijaksana kalau pekerjaan itu yang diprioritaskan. Kalau benar-benar yakin, bahkan perempuan berjiwa wirausaha bisa membuka peluang income secara mandiri, sekalipun  ruang kerjanya mungkin hanya di sudut rumah.

Sphere: Related Content

Artikel terkait:

  1. Tokoh Idola Anak-Anak

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.




Dunia Parenting - Buku Anak di Facebook
 Print Artikel Ini

Artikel ini diterbitkan oleh Blog Family Writing dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 4 September 2007. Artikel ini bebas ditulis ulang untuk keperluan non-komersial selama mencantumkan nama penulis dan sumber (URL) halaman yang dikutip dan tidak mengubah isinya.

Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan | Bisnis Hosting

Author:
maya
Time:
Tuesday, September 4th, 2007 at 7:49 am
Category:
Maya, Opini
Comments:
You can leave a response, or trackback from your own site.
RSS:
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Navigation:

One Response to “Emansipasi dan Hak Anak”

  1. Nuning Says:

    Tulisannya sangat menarik, karena saya termasuk perempuan pekerja yang akhirnya memutuskan berhenti bekerja karena anak saya masuk kelas remedial ketika harus ditinggal keluar kota selama 2 minggu :-(

    Saya hanya ingin komentar sedikit: “emansipasi” adalah jargon developmentalis yang berusaha memberikan peran terhadap perempuan di ruang publik akibat kegagalan mengidentifikasi peran ekonomi perempuan di wilayah domestik (ekonomi rumah tangga) dalam GDP.

    Saya pikir dikotomi publik-privat dalam bidang ekonomi harus dibuat lebih cair dengan menghitung usaha rumahan sebagai ekonomi produktif dalam statistik nasional, oleh karena itu perempuan tidak perlu merasa rendah diri jika harus bekerja di sektor “domestik” yang pada kenyataannya adalah produktir itu.

    Tetapi, walaupun harus bekerja di sektor publik tempat bekerja sebaiknya gender-friendly (gender ini salah satu kata yang “dimsuhi” seperti emansipasi, padahal ia punya arti yang baik). Misalnya: salah seorang mahasiswa saya yang bekerja di Bappenas pernah mengadaka survey bahwa perempuan memerlukan 50% air lebih banyak dan 50% waktu lebih panjang di toilet. Berdasarkan analisa kebutuhan itu, maka WC perempuan harus lebih banayk jumlahnya dari WC pria. Atau perempuan membutuhkan waktu khusus untuk menyusui bayi atau bersama anaknya selama ia bekerja. Ini juga salah satu prinsip gender-friendly karena memperhatika kebutuhan gender yang berbeda.

    Anyway, di Indonesia gender-friendly workplace masih sangat langka sehingga jika perempuan bekerja selalu meghadapi dilema pengasuhan anak. Hanya ada tempat2 tertentu saja yang sudah mengaplikasikan ini.

    Alhamdulillah di tempat saya mengjar (Kajian Wanita UI) sudah gender-friendly. Mahasiswa yang baru melahirkan suka boleh membawa bayinya agar bisa disusui, juga jika saya mengajar saya sering mengajak anak saya untuk ikut di kelas, saya beri dia kertas, pensil, crayon, atau buku2 bergambar, jadi ketika saya mengajar dia sibuk sendiri dengan dunianya di kelas saya.

    Anyway, terima kasih untuk thoughtful writing-nya.

Leave a Reply



Pustaka Nilna | Internet Bisnis | Sekolah Menulis | Bisnis Internet | Internet Money | Jurnal Profesi
Tips & Article | Dunia Parenting | Pendidikan Rumah | Jurnalistik | Belajar Membaca | Keynote Speaker | Bisnis Hosting