Ini merupakan kelanjutan kisahku sebagai anak adopsi yang memiliki luka batin yang mendalam. Aku merasa sejak kecil, aku ada yang memperhatikan dan mengikuti. Mereka ini mahkluk halus.
Mungkin mereka tahu akan keberadaan luka batinku, sehingga mereka tertarik untuk mendekatiku. Mereka ingin memilikiku. Tapi, mereka ini jahat. Setiap kali ada orang yang berbuat jahat kepadaku entah disaat aku masih duduk di bangku SD atau SMP, mereka ini membalas kejahatan orang-orang itu. Padahal, aku tidak menginginkannya.
Sejak kecil, tepatnya umur berapa, aku lupa, aku sudah bisa melihat dan berbicara dengan mahkluk halus. Mengapa aku jadi seperti ini, ada kaitannya dengan sebuah kejadian mati suri yang pernah aku alami waktu aku berumur satu tahun.
Begini ceritanya. Pada mulanya, aku memang bukanlah seorang bayi yang sehat. Aku diadopsi ketika berumur 3 bulan. Suatu hari aku mengalami panas tinggi dan kejang alias step, dan ini berulang-ulang kali terjadi. Disaat aku dibawa ke dokter anak Lo Hon Sang di daerah Mangga Dua, aku meninggal di dalam perjalanan, meninggal di dalam Bajaj. Tapi beberapa menit kemudian, aku hidup lagi. Inilah yang kusebut mati suri.
Setelah kejadian ini, orangtuaku membawaku ke seorang pintar menanyakan perihal diriku yang aneh ini. Si kakek ini memberi aku nama Bong tet Po, yang artinya mendapatkan mustika, menggantikan nama Afui yang merupakan pemberian kedua orangtuaku. Kakek ini juga memberikan aku Hu atau jimat yang berupa kertas kuning yang diisi tulisan dan yang sudah didoakan sebagai pelindungku. Kalau tidak salah, seingatku, aku juga di kasih sebuah gelang putih yang suatu hari patah olehku.
Kata ibuku, aku pernah jatuh dari ayunan. Dan ini mungkin menyebabkan aku jatuh sakit keras sampai pada akhirnya mati suri. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, arwahku yang lagi satu pergi dari tubuhku karena aku kaget, jatuh dari ayunan, masuk ke baskom tempat tadah air seni yang di taruh dibawahku.
Sejak kecil, aku tidak pernah merasa kalau bangsa halus ini adalah musuh. Mereka tinggal berdampingan dengan kita tapi lain dunia. Tidak sepatutnya kita saling bersinggungan.
Di saat aku duduk dibangku SMP kelas 3, ini kejadian tahun 1994, aku didatangi tamu yang tidak diundang. Tamu yang berasal dari dunia halus memaksa aku mengikuti mereka dan menyembah mereka. Aku bersikeras menolaknya. Aku lawan setiap mereka, tapi apa daya, aku tidak berhasil. Aku kalah. Mereka meminta nyawaku kepada Sang Maha Pencipta dan memaksa kedua orangtuaku untuk membakarku kalau ingin aku hidup terlepas dari cengkeraman mereka.
Pertama kali aku dirasuk oleh mereka ketika aku makan siang sepulangnya aku dari sekolah. Kejadian ini sangat menakutkan dan mengerikan. Tidak ada satupun orang yang sanggup menolongku saat itu. Aku dianiaya dan disiksa begitu rupa secara fisik maupun secara roh.
Terus terang, dalam hal keagamaan, aku bukan seorang yang agamis. Aku percaya akan adanya TUHAN YME, dan menganggap semua agama itu baik dan benar adanya. Aku dari SD sampai SMP sekolah di sekolah Kristen tapi aku bukan Kristen tulen, sedangkan kedua orangtuaku menganut agama dan kepercayaan leluhur. Tapi menurutku ini tidak jadi soal.
Yang jelas aku berusaha melawan mati-matian bangsa halus yang jahat ini yang hendak memperbudak aku. Aku menepis semua tawaran mereka dan melawan untuk tidak melakukan apa yang mereka perintahkan kepadaku. Walaupun sampai akhirnya, aku menyerah pada mereka. Mereka menginginkan aku mati karena suatu hal yang katanya ada kaitan dengan masalah langit. Dibawanyalah aku ke alam mereka dan diperhadapkannyalah aku dengan raja mereka.
Selama aku di dunia, ketika mereka menindas dan menganiaya aku begitu rupa, aku dilindungi oleh TUHAN YME. Sungguh, tidak ada luka sedikitpun pada badanku. Tapi aneh bagiku, mengapa Sang Maha Pencipta mengijinkan ini terjadi?
Ketika aku berhadapan dengan raja iblis, dia memerintahkan aku untuk menyembahnya, tapi aku menolaknya dengan keras. Lalu ia bertanya kepadaku mengenai siapa pribadi yang kusembah. Jawabku, “TUHAN”. Tidak berhenti sampai disitu, kembali ia bertanya mengenai TUHAN yang mana kusembah. Jawabku dengan tegas, “TUHAN Sang Maha Pencipta segalanya”. Disini saya tidak menyebutkan Tuhan dari agama manapun, tetapi TUHAN YME, hanya itu.
Raja iblis marah dan ia memerintahkan algojonya untuk melemparkan aku ke dalam lautan api. Disaat aku diseret hendak dilemparkan ke dalam lautan api, aku berseru memanggil nama TUHAN YME sebanyak 3x. Aku meminta tolong padaNya. Disaat teriakanku yang ketiga kali kepada TUHAN YME, aku melihat adanya sinar yang begitu terang menyinari tempat yang gelap itu. Aku mendengar adanya suara yang gemuruh dan tiba-tiba tampaklah mahkluk yang bersinar terang, bersayap dan ada yang tidak bersayap berdiri memenuhi ruangan yang gelap itu. Satu diantara mereka mendekatiku dan para algojo setan yang hendak melemparku. Dengan tegas ia memerintahkan mereka untuk melepaskanku dan ia berkata bahwa aku milik TUHAN YME, bukan milik kerajaan setan. Dan ia berkata kepadaku bahwa dia adalag hamba TUHAN yang bernama Mikhael.
Dengan segera para mahkluk utusan TUHAN ini menyelamatkanku dan membawaku keluar dari kerajaan kegelapan. Aku dibawa mereka untuk berjumpa dengan TUHAN. Ya, aku dibawa kedalam kerajaan TUHAN. Aku berjumpa dengan TUHAN YME. Dan IA mengatakan kepadaku bahwasannya waktuku belum selesai dan ada amanat yang IA berikan padaku yang harus kuselesaikan di bumi.
Begitulah sepenggal ceritaku mengenai pengalaman dunia roh yang pernah kualami. Sekian dan terimakasih para pembaca.
Sphere: Related ContentArtikel terkait:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan |
Bisnis Hosting




September 9th, 2009 at 1:10 am
[...] Kalau dipikir-pikir, apa salahku sama mereka. Aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Toh, aku tidak melakukan suatu kejahatan apapun. Aku suka sekali merenung, sebenarnya ada apa denganku? Tidak disangka-sangka aku menjadi anak yang memiliki luka batin yang sangat dalam. Sekian belas tahun lamanya aku dihina-hina dan dikata-katai orang anak pungut, anak haram. Pada akhirnya, diusiaku yang menjelang 17 tahun, aku tahu tentang semua kebenaran ini. Inipun bisa terkuak karena adanya peristiwa yang berkaitan dengan perjalananku di dunia roh. Selengkapnya bisa dibaca di karya tulisku yang berjudul Pengalamanku Di Dunia Roh. [...]