Kami mudik hari Rabu tgl 11 Oktober 2007. Alhamdulillah relatif lancar sampai Blitar, ditempuh kurang lebih 19 jam, karena jalannya santai saja. Sengaja tidak nginap karena rasanya tanggung sih.
Sampai di Blitar pas adzan subuh hari Kamis. Kami berpapasan dengan ibu dan kakak di depan rumah karena mereka sholat subuh di mesjid. Ibu memeluk kami erat sekali sambil berujar, ”Alhamdulillah kita masih bertemu di Ramadhan ya ngger”. Ucapan lain tersekat karena keharuan mendalam.
Kami bersyukur ibu terlihat bugar di usianya yang 82 tahun. Cuma bungkuknya makin dalam. Diam-diam saya meneteskan air mata haru melihat beliau tertatih-tatih kemesjid. Setelah semua berlalu kami cepat-cepat masuk kedalam untuk mandi dsb, karena ngga mandi dijalan, sholat subuh di rumah.
Hari itu kami hanya melepas penat, kecuali anak-anak, masih banyak energinya sehingga dengan gembira dia melihat sapi-sapi dikasih makan atau diperah susunya. Sapi di Sanan Kulon – Blitar, memang dipelihara disekeliling rumah. Jangan ditanya harumnya. Orang disana bilangnya, “bau duit”…he he, ada ada saja.
Saya mau cerita yang lain. Seperti biasa dimanapun ibu-ibu punya kewajiban dan kesenangan untuk nyiapin shahur, walau badan masih capek tidak keruan, kewajiban yang satu ini tidak boleh ketinggalan. Dapurnya khas rumah di kampung terpisah jauh oleh tempat jemuran padi. Ada ruangan kosong (saya suka berkhayal seandainya rumah ini ada di Jakarta huah nyaman sekaliii), bentuknya sih standar lah, joglo begitu.
Ketika saya mau lewat karena mau masak sahur saya tertegun melihat pemandangan menakjubkan di langit. Sepertinya beberapa benda bercahaya warna-warni memenuhi langit dengan suara seperti pesawat. Kaget sekali sekaligus takjub menyaksikan pemandangan ini. Campur antara rasa takut ada rasa takjub, serta merta terlintas oleh saya sebuah sensasi unik: wah saya lihat UFO !!! Sebagai orang yang lama kerja di penerbangan sangat tidak mungkin berfikir kalau itu pesawat apalagi pesawat PEMDA, karena adanya di langit Sanan Kulon Blitar. Wah berapa ratus ribu USD yang dihabiskan untuk demo seperti itu……………Apalagi pesawat lain. Sserangan udara? he he kok pesawatnya pada terbang tenang gitu, ada urusan apa? Apakah sedang memantau gunung kelud ? Tapi kok banyak sekali. Fikiran saya bingung, mungkin dipengaruhi karena capek diperjalanan makanya fikiran ngga fresh, tepatnya mendadak telmi.
Barangkali beberapa belas menit saya memandang ke atas sendirian, sebelum tersentak sadar oleh peringatan takmir mesjid bahwa sudah waktunya sahur……..
Singkat kata setelah semuanya saya bangunkan untuk makan sahur, lalu pelan-pelan saya kemukakan temuan saya itu ke mas Amor. Eh bukannya dia takjub dengan cerita istrinya, malah menertawakan. Katanya itu ‘kan …… layangan.
Betapa malunya saya. Kalau orang kota bilang kampungan untuk kelakuan yang tidak canggih, nah kalau orang kota yang naïf kayak saya apa ya namanya. Lalu dengan masgul saya berujar, ”siapa tuh yang iseng main layangan semalam?” ( Wah ngga taraweh dan lain lain dong, sok menggurui)
Eh ternyata dijawab enteng saja sama mas Amor, “ngga ada yang main, lha wong itu talinya ditambatkan saja!!!!”
Aduh sekali lagi saya mohon maaf sudah berburuk sangka, rupanya orang desa juga pandai menghibur diri………
Blitar 11 Oktober 2007
Sphere: Related ContentAnda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan |
Bisnis Hosting



