oleh: Hesti Tresnasih
Ini bukan cerita cabul. Tapi benar-benar menimpa saya. Saya meniup-niup duburnya sambil melantunkan kalimat tauhid dalam batin. Saya tahu ini teramat sakit bagi Abiy yang masih 8 tahun. Saya juga harus menahan tangis di depan Abiy. Ini permintaan Abiy sendiri.
“Tolong beritahu tamu yang besuk Abiy ya, Ma. Jangan menangis di sini. Allah sayang Abiy. Allah Tahu Abiy kuat menghadapi ujian ini. Abiy anak istimewa kan, Ma?” Saya sepakat dengan Abiy untuk menjaga prasangka baik kepada Allah. Abiy mengerti bahwa dokter, suster, alat dan obat hanya media. Sisanya adalah keyakinan dan kepasrahan jiwanya mendukung jagad mekanisme tubuhnya. Seperti hari ini Abiy berusaha menahan erangannya. Hingga tercetus dari mulut Abiy,
“Ma, Abiy mau ketemu Allah aja…!”
“Mama sudah ikhlas, Nak…” jawab saya lirih.
Tapi tiba-tiba,
“Byaaar!”
darah segar memancar dari dubur Abiy! Serr! Kira-kira 200ml.
Saya berusaha menahan kaget. Suster memberi isyarat pada saya untuk tetap tenang. Sementara suster membantu membenahi Abiy, saya meninggalkan ruangan menuju ruang tunggu. Di situ pecahlah tangis saya sejadi-jadinya.
***
Sepenggal kisah seorang ibu penderita Leukemia ini adalah oleh-oleh pengajianku Kamis (14/6) kemarin. Abiy adalah teman selevel anakku di SD Mutiara Bunda. Ibu ini menceritakan banyak hikmah. Aku ikut terhanyut dengan ceritanya. Ibu ini begitu tenang dan tegar menceritakan pengalamannya dengan lancar. Saya jadi ingat pesan ustadzah; kalau kita mau pandai berkomunikasi dengan baik, komunikasi kita dengan Allah harus baik terlebih dahulu. Kelihatan orang yang sering dialog sama Allah, ya seperti ibu ini. Inilah yang dilakukannya sepanjang hampir setahun ini; mendaftar 10 dosa terbesarnya selama ini, membersihkannya dengan shadaqah, berbaik sangka kepada Allah, mendawamkan ibadah rutin terutama shalat malam, baca Qur’an dan puasa; bergaul dengan orang-orang soleh yang menginspirasinya sikap positif pada hidup.
Dia mengaku banyak mu’jizat yang tidak terduga. Misalnya pernah dia mengantar Abiy untuk kemo di Jakarta dan hanya punya uang Rp. 200.000 (hanya ongkos sekali jalan). Di travel yang dinaikinya, dia bertemu teman lama. Ngobrol-ngobrol… Saat berpisah dia memberinya secarik amplop. Setelah dibuka isinya satu juta! Sambil menunggu Abiy proses kemo, dia pergi ke pondok wisata hati (Yusuf Mansur) yang biasa dia kunjungi untuk nge’cas’ spiritnya. Di sana dia berkata dalam hati, “Saya sedekah 500rb untuk pondok hafizh Qur-an; sisanya buat ongkos pulang.” Tiba di rumah sakit, dia bertemu mertuanya yang memberinya segepok uang berjumlah lima juta! Sejak itu dia yakin untuk tidak ragu bersedekah.
“Saya diajari Allah kepasrahan dan keikhlasan hanya dalam setahun melalui Abiy..” Ibarat sekolah, ibu ini lulus kenaikan tingkat/ kelas.
Subhanallah Maha Berkehendak Allah …
Incoming search terms for the article:
- derita ibu
- cerita duka seorang ibu
- derita dari mulut ibu
- abiy adalah
- dubur mamaku
- kisah anak dia ibu saya
- kisah derita ibu
- kisah duka seorang ibu
- Kisah penderitaan ihlas hati ibu
- kisah puasanya orang soleh
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
|
Belajar Jadi Affiliate Sukses Cocok Untuk pemula yang masih gaptek banget dengan bisnis online. |
Panduan Bisnis Clickbank Panduan Terbaik Jualan di Clickbank dengan cara SEO dan Adwords. |





