DUNIA PARENTING | Bisnis di Rumah | Bisnis Hosting | KIRIM ARTIKEL | PENDAFTARAN JADI PENULIS

Selamat datang di Blog Family Writing

Tanpa kita sadari, ternyata banyak hal tak bisa kita ungkap dengan berbicara. Anehnya ketika tercurah lewat tulisan, gelora itu melesat keluar begitu saja. Jiwa kita terbebas dengan keluarnya kata demi kata.

Kita semua pasti punya cerita. Tak peduli kita penulis profesional atau bukan. Karena itu kami undang Anda menuliskan cerita-cerita Anda. Caranya mudah sekali. Bergabung, lalu Login dengan username dan password Anda, lalu mulailah bercerita. Ayo Bergabung! Klik Disini.

 
TRAINING GRATIS MEMBANGUN BISNIS ONLINE DAN INTERNET MARKETING, 100% GRATIS!
Jangan sampai terlambat! Hari ini daftar, dan langsung praktek. Benar-benar GRATIS! Klik Disini!
  EBOOK BARU: CARA MENGATASI BERBAGAI KESULITAN MENGAJAR ANAK BISA DAN SUKA MEMBACA
Ebook Plus Bahan-Bahan Mengajar dengan pendekatan Multi-Metode Download Disini!
Sat
2
Jun

Manfaat Berlatih Menulis di Ruang Privat

Posting byredaksi

Oleh Hernowo*)

“Menulis adalah keperluan pribadi bukan tugas karena
di dalamnya ada kesenangan dan manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Ada nilai yang tak terukur dalam kegiatan ini.” (PAUL JENNINGS dalam The Reading Bug)

Menulis itu sangat mudah dan, saya jamin, tidak akan
menyiksa diri kita jika kita mau memiliki sebuah ruang
menulis (untuk digunakan sebagai tempat berlatih
menulis) yang bernama “ruang privat”.

Saya katakan bahwa “ruang privat”, yang kita ciptakan
ini, adalah untuk berlatih menulis karena menulis itu
sebuah keterampilan. Jika kita tidak membiasakan diri
menulis, mustahil kita dapat memiliki keterampilan
menulis yang membuat diri kita lancar dan nyaman dalam
mengalirkan tulisan.

“Ruang privat” adalah ruang yang di dalamnya hanya ada
diri kita ketika kita menulis. Lawan dari “ruang
privat” adalah “ruang publik”. Di “ruang privat” kita
benar-benar memiliki kebebasan menulis secara mutlak.
Saya sering menganggap ruang ini sebagai “keranjang
sampah” untuk membuang apa saja yang ingin saya
keluarkan/tulis dari diri saya. Saya senantiasa merasa
plong setelah habis-habisan menjalankan kegiatan
menulis di “ruang privat”.

Setiap kali saya menulis di ruangan ini, saya
senantiasa menggunakan kata ganti orang pertama
(“saya”), ketika mengawali menulis. Contoh: “Saya
ingin menulis apa ya? Apa yang akan saya tulis yang
membuat diri saya terkesan dengan tulisan saya? Materi
apa yang cocok untuk saya tulis hari ini agar saya
dapat terus termotivasi membuang/mengalirkan tulisan?
Saya baru saja membaca novel Edensor karya Andrea
Hirata. Apa yang saya peroleh dari kegiatan membaca
saya ini? Apa makna (hal-hal mengesankan) yang saya
peroleh dari Edensor?”

“Ruang privat” kerap saya gunakan untuk “mengikat
makna”. “Mengikat makna” adalah cara saya memadukan
kegiatan membaca dan menulis yang benar-benar bermakna
(tidak sia-sia) bagi diri-pribadi saya. Saya menjadi
keranjingan membaca dan kemudian menuliskan
(“mengikat”) apa saja—untuk mendapatkan makna—karena
“mengikat makna” benar-benar menyelamatkan saya dari
kebosanan membaca dan, terutama, menulis. Saya tidak
ingin kegiatan membaca dan menulis saya hampa yang,
akhirnya, membuat saya malas membaca dan menulis.

Lewat “ruang privat”, saya juga dapat menulis secara
mencicil dan menulis secara spontan. Baik menulis
secara mencicil maupun spontan, senantiasa saya
arahkan agar saya dapat mengumpulkan lebih dahulu
“bahan-bahan mentah” tulisan milik saya. Saya percaya
sekali bahwa menulis tidak bisa sekali jadi. Menulis yang dapat  menghasilkan tulisan yang baik perlu waktu. Kadang, bahkan, kita perlu memperkaya tulisan kita dengan banyak membaca. Oleh sebab itu, “ruang privat” membantu saya untuk menampung “bahan”—tulisan-tulisan saya yang belum selesai atau masih menggantung atau sudah selesai tetapi masih sangat mentah—tulisan yang suatu saat bisa saya revisi dan tujukan ke publik.

Sebagaimana menulis diary, saya mengisi “ruang privat”
setiap hari. Saya harus berusaha keras membiasakan
diri membaca—meski hanya membaca beberapa halaman—dan kemudian menuliskan (mengikat) apa yang saya baca.

Sekali lagi baik membaca maupun menulis, itu merupakan
sebuah keterampilan. Jadi, jika kita memang ingin memiliki keterampilan tersebut, ya, mau tidak mau, kita harus memiliki tekad yang sangat kuat untuk membiasakan diri menjalankan kegiatan membaca dan menulis setiap hari, meski hanya sebentar.

Apa saja keuntungan menulis di “ruang privat”?

Pertama, kita memiliki kebebasan menulis yang dapat
dikatakan mutlak. Bebas dalam memilih topik, mengawali
tulisan, atau menentukan tujuan (manfaat) dari kegiatan menulis yang ingin kita selenggarakan secara kontinu dan konsisten.

Kedua, kita memiliki peluang besar untuk menggali
“karakter” tulisan kita. Dengan kebebasan yang kita miliki, kita dapat menunjukkan diri kita yang sesungguhnya, yang asli (genuine), yang benar-benar merupakan cerminan diri/jiwa kita.

Ketiga, kita menjadi lebih bertanggung jawab ketika
mengungkapkan apa saja yang ingin kita tulis. Kita bisa merasakan apakah tulisan kita membuat diri kita senang atau tidak. Kita bisa mengecek diri kita sendiri apakah yang kita tulis ini benar-benar berasal dari murni-pikiran kita atau tidak. Ringkasnya, kita lantas bisa jujur kepada diri kita sendiri terkait dengan hasil tulisan kita.

Keempat, kita menjadi terbiasa menangkap ide-ide yang
datang bagaikan kilat, yang datangnya kadang-kadang
tak bisa kita duga. Memang, ada ide biasa dan ada ide
cemerlang. Namun, jelas mustahil kita dapat menangkap
ide cemerlang jika diri kita tak terlatih menangkap ide yang biasa-biasa saja.

Kelima, kita punya “ruang” untuk menulis yang tidak
mengancam atau meneror diri kita. Kita bisa memanfaatkan “ruang” tersebut untuk meraih tujuan-pribadi menulis kita lebih dahulu. Jika, kendala-kendala internal menulis (yang ada di “ruang privat” ini, seperti mood, semangat, tidak punya ide, mengkarakterisasi tulisan, dan lain-lain) bisa kita
atasi, insya Allah, kita akan dapat mengatasi kendala
eksternal (yang ada di “ruang publik”). Apakah mungkin
kita dapat enak dan nyaman menulis di “ruang publik”,
jika menulis di “ruang privat” saja belum beres dan masih mengganggu diri kita?

Semoga bermanfaat.

(tulisan ini disampaikan dalam acara Family Writing
tanggal  2 Juni 2007
)
___________________
*) Hernowo, lahir di Magelang pada 12 Juli 1957,
adalah pendidik sekaligus penulis. Sehari-harinya
mengelola Klinik Baca-Tulis MLC dan menjadi instruktur
di Sekolah Menulis “Mengikat Makna” via E-mail. Sejak
menerbitkan karya pertama, Mengikat Makna (2001),
hingga mendekati medio 2007 ini sudah 27 buku
ditulisnya. Buku-buku bestseller-nya, antara lain Mengikat Makna, Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, Quantum Reading, Quantum Writing, dan Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Mengajar secara Menyenangkan.

Sphere: Related Content

Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.




Dunia Parenting - Buku Anak di Facebook
 Print Artikel Ini

Artikel ini diterbitkan oleh Blog Family Writing dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 17 September 2007. Artikel ini bebas ditulis ulang untuk keperluan non-komersial selama mencantumkan nama penulis dan sumber (URL) halaman yang dikutip dan tidak mengubah isinya.

Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan | Bisnis Hosting

Author:
redaksi
Time:
Saturday, June 2nd, 2007 at 4:16 pm
Category:
Hernowo, Tips Penulisan
Comments:
You can leave a response, or trackback from your own site.
RSS:
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Navigation:

2 Responses to “Manfaat Berlatih Menulis di Ruang Privat”

  1. .:Pustaka Nilna:. Says:

    [...] “Ruang privat” adalah ruang yang di dalamnya hanya ada diri kita ketika kita menulis. Lawan dari “ruang privat” adalah “ruang publik”. Di “ruang privat” kita benar-benar memiliki kebebasan menulis secara mutlak. Saya sering menganggap ruang ini sebagai “keranjang sampah” untuk membuang apa saja yang ingin saya keluarkan/tulis dari diri saya. Saya senantiasa merasa plong setelah habis-habisan menjalankan kegiatan menulis di “ruang privat”. Selengkapnya klik disini…. [...]

  2. ifta Says:

    aku dari kecil punya ruang prifat yang bener-bener prifat yaitu diary.Kalau sekarang aku nulis-nulis di blog. memang, melalui tulisan kita bisa mengaktualisasikan diri kita dan yang pasti bisa sedikit mengurangi beban kita….

Leave a Reply



Pustaka Nilna | Internet Bisnis | Sekolah Menulis | Bisnis Internet | Internet Money | Jurnal Profesi
Tips & Article | Dunia Parenting | Pendidikan Rumah | Jurnalistik | Belajar Membaca | Keynote Speaker | Bisnis Hosting