<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menjadi penulis, bikin PD</title>
	<atom:link href="http://www.family-writing.com/ekspresi/menjadi-penulis-bikin-pd.html/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.family-writing.com/ekspresi/menjadi-penulis-bikin-pd.html/</link>
	<description>saat-saat keluarga menulis cinta dan impian</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Jun 2010 07:10:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: nai</title>
		<link>http://www.family-writing.com/ekspresi/menjadi-penulis-bikin-pd.html/comment-page-1/#comment-36</link>
		<dc:creator>nai</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 05:09:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.family-writing.com/?p=39#comment-36</guid>
		<description>Betul sekali.  Kadang saya juga merasa bahwa hidup saya terlalu biasa untuk dituangkan dalam sebuah tulisan.  Saya hanya seorang karyawati biasa dari sebuah perusahaan biasa dengan kehidupan yang sangat biasa-biasa saja.  
Tapi setelah saya coba menulis kehidupan saya selama beberapa waktu, saya jadi punya cara memandang kehidupa n yang biasa itu dengan sudut pandang lain.
Belakangan saya sering telat masuk kantor karena angkot yang saya tumpangi sering ngetem.  Kesal luar biasa karenanya.  Kenapa betah ngetem lama-lama? Jalan doooonk!!!, sering saya teriak-teriak dalam hati.  Kemudian saya bayangkan ketika saya harus menuliskan ini dalam diary, dan saya cari-cari sisi lainnya.  Saya perhatikan sopir angkotnya sering melamun ketika ngetem.  Apa yang dia pikirkan?  Mungkin kekhawatiran kalau-kalau setoran hari ini tidak cukup.  Mungkin anaknya yang sedang sakit dan butuh biaya?  Mungkin impiannya untuk memiliki angkot sendiri yang sepertinya mustahil tercapai? Mungkin memikirkan penumpang aneh yang ditemuinya tadi malam? Mungkin...mungkin...
Dan perjalanan yang biasa itu berubah jadi perjalanan yang penuh cerita....
Bedanya manusia dengan makhluk lain adalah: manusia selalu berusaha mencari makna dalam setiap kegiatan hidupnya.  Iya kan?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Betul sekali.  Kadang saya juga merasa bahwa hidup saya terlalu biasa untuk dituangkan dalam sebuah tulisan.  Saya hanya seorang karyawati biasa dari sebuah perusahaan biasa dengan kehidupan yang sangat biasa-biasa saja.<br />
Tapi setelah saya coba menulis kehidupan saya selama beberapa waktu, saya jadi punya cara memandang kehidupa n yang biasa itu dengan sudut pandang lain.<br />
Belakangan saya sering telat masuk kantor karena angkot yang saya tumpangi sering ngetem.  Kesal luar biasa karenanya.  Kenapa betah ngetem lama-lama? Jalan doooonk!!!, sering saya teriak-teriak dalam hati.  Kemudian saya bayangkan ketika saya harus menuliskan ini dalam diary, dan saya cari-cari sisi lainnya.  Saya perhatikan sopir angkotnya sering melamun ketika ngetem.  Apa yang dia pikirkan?  Mungkin kekhawatiran kalau-kalau setoran hari ini tidak cukup.  Mungkin anaknya yang sedang sakit dan butuh biaya?  Mungkin impiannya untuk memiliki angkot sendiri yang sepertinya mustahil tercapai? Mungkin memikirkan penumpang aneh yang ditemuinya tadi malam? Mungkin&#8230;mungkin&#8230;<br />
Dan perjalanan yang biasa itu berubah jadi perjalanan yang penuh cerita&#8230;.<br />
Bedanya manusia dengan makhluk lain adalah: manusia selalu berusaha mencari makna dalam setiap kegiatan hidupnya.  Iya kan?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
