oleh : Annis D. Raksanagara
Indonesia sempat dikejutkan oleh “temuan” Roy Suryo tentang teks asli lagu kebangsaan Indonesia Raya yang ternyata terdiri dari 3 kuplet menjelang HUTnya yang ke-62 tahun ini. Hal ini sempat menjadi berita besar karena beberapa orang yang sekarang sedang di posisi “nara sumber” merasa terkejut dan berkomentar. Belakangan, berita itu menghilang karena bukan saja Lembaga Arsip Nasional yang membantah dengan data, tetapi justru banyak sekali ”orang biasa” yang mengatakan sudah tahu dari dulu karena ada di pelajaran sekolah.
Yap, saya juga ingat pernah mempelajarinya pada masa sekolah, antara tahun 1974-1986. SD-SMP-SMA saya jalani di sekolah negeri. Roy dan sebagian komentator, menilik dari usianya, sempat beririsan masa sekolah dengan saya. Kalau mereka sampai merasa ini hal yang benar-benar baru, mungkin mereka dulu sekolah di luar negeri.
Jika Roy Suryo mempermasalahkan teks lama lagu Indonesia Raya, Amira justru “membuat” teks baru lagu ini. Amira baru kelas satu SD. Jadi, 17 Agustus 2007 ini merupakan kesempatan pertamanya ikut apel kemerdekaan di sekolah.
Sejak awal Agustus, gurunya mulai memperkenalkan lagu Indonesia Raya. Amira pun, dengan kosa kata yang dimiliki anak menjelang 7 tahun, merekam dalam benaknya. Dan, dia bangga karena punya ”lagu baru” untuk dinyanyikan di rumah. Dia belum paham sama sekali bahwa ini lagu sakral, yang mendengarkan biasanya dalam pakaian seragam lengkap dan berdiri dengan sikap sempurna, apalagi yang menyanyikannya.
Akibatnya…
Amira, seperti biasa, mandi sambil bernyanyi (dan berjoged. Ssst, off the record.). Sore itu yang dinyanyikannya adalah … Indonesia Raya! Wah, mudah-mudahan tidak ada sanksi untuk warga negara yang melakukan ini. Terdengar dengan pe-de nya dia bernyanyi :
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri, jadi spanduk ibuku …
Eh? Saya tertawa, dan kemudian mengulang sambil agak mengeja
Disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku …
”Memangnya pandu itu apa sih, Mah?” tanyanya dengan polos.
”Pandu itu … eeh… apa ya, semacam pendamping, pengawal, penunjuk jalan” saya menjawab tergagap.
”Oh, itu. Amira kan tahunya spanduk,” jawabnya kalem, dan kemudian meneruskan mandi dan nyanyinya. Kali ini dengan kata-kata yang benar.
Tinggallah saya yang semula tertawa geli menjadi termenung. Apa yang sudah saya ajarkan kepadanya selama ini? Kata ”spanduk” ternyata sudah sangat familier di benaknya, sementara ”pandu” dia catat sebagai kata baru. Bagaimana dia tidak akan mengenal kata spanduk, jika setiap hari itu yang banyak dilihatnya. Bahkan mulai dari jarak 100 meter dari pintu rumah.
Apalagi ya yang tertangkap olehnya dari tebaran spanduk di sepanjang jalan sepanjang waktu ? Bagaimana mengiklankan diri? Bagaimana mempengaruhi orang lain? Bagaimana mengemas sesuatu yang biasa menjadi tampak luar biasa? Bahwa sudah demikianlah seharusnya pemandangan di jalan, spanduk dipasang dimana saja? Konsumtif? Yap, dengan posisinya yang baru bisa membaca, spanduk yang terbaca hanya yang tulisannya besar dan sedikit. Ini biasanya milik produk konsumsi. Merknya yang akan mudah dibaca, uraian lainnya dalam huruf lebih kecil. Spanduk yang berisi himbauan? Biasanya berisi banyak kata, sehingga malah tidak terbaca. Atau, tampilannya tidak menarik mata.
Jadi berandai-andai. Akan menarik dan bermanfaat jika ada pihak yang secara sengaja dan berkala menebar tulisan yang menggugah. Dengan tulisan besar dan sedikit kata. Kalaupun bekerja sama dengan swasta, merknya ditampilkan kecil saja, atau malah cukup logonya saja. Sehingga, anak-anak kita yang baru belajar membaca akan tertarik dan bawah sadarnya akan merekam untuk suatu saat mengimplementasikan nya. Misalnya : Aku Cinta Indonesia, Mandiri Bukti Harga Diri, Bersih Diri – Bersih Negeri, Hidup Sehat Banyak Manfaat, dll. Tapi bukan : Jauhi Narkoba, Berantas Koruptor, dan sejenisnya. Mungkin saja yang terekam oleh anak-anak hanya Narkobanya saja, atau Koruptornya saja.
Renungan saya yang kedua dari Indonesia Raya-nya Amira adalah, Amira mengatakan apa yang dia tahu saja. Sementara, selama ini saya hanya menghapal lagu kebangsaan tanpa benar-benar memahaminya, apalagi mengamalkannya. Saya jadi menyanyikannya lagi dalam hati, sambil meresapi bait demi baitnya. Betapa, seharusnya saya bisa berbuat lebih banyak lagi untuk negeri ini jika saja saya mengimplementasikan apa yang saya nyanyikan dengan lebih sungguh-sungguh.
Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku
Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru, Indonesia Bersatu
Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku, semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Tanahku, negeriku, yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka, merdeka
Hiduplah Indonesia Raya.
Mudah-mudahan tidak ada kata yang salah. Kesadaran baru lagi, ternyata saya bahkan tidak yakin pada hapalan saya sendiri tentang lagu ini.
Mudah-mudahan, kondisi ini hanya terjadi pada saya. Tidak pada jutaan warga negara lain yang dulu, sekarang, atau di masa datang menyanyikannya secara rutin setiap apel senin pagi, atau setidaknya setahun sekali pada tanggal 17 Agustus.
Sphere: Related Content
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan |
Bisnis Hosting



