Seperti ibu yang lain, aku ingin anakku mendapat yang terbaik. Kupikir (saat itu) aku sudah lakukan yang terbaik. Kami memilihkan sekolah terbaik yang jauh dari rumah. Tapi aku salah karena menyepelekan factor jarak. Faisal mulai mogok di minggu kedua.
Segala upaya dari menghentikan jemputan, mengantarnya sendiri, sesekali ngungsi di rumah kontrakan temen sampai numpang di rumah mertua yang letaknya lebih dekat (mana suami kerja di luar
Setidaknya enam bulan pertama aku bolak-balik mengantar dan menjemput sekolahnya, pake Angkot dengan dua ransel di belakang (satu ransel Faisal, satu lagi ransel isi baju ganti, pampers si kecil Nahdia), menuntun dua anak, satu lagi di depan /dalam perut buncitku yang masih berumur beberapa bulan. Aku bisa saja memindahkan anakku ke sekolah yang lebih dekat. Tapi aku tak mau memaksa suamiku menyia-nyiakan biaya sekolah yang sudah dibayarkan. Saat ini kita belum bisa mengabaikan pertimbangan ekonomi. Suamiku juga orang yang sangat perhitungan (kalau gak mau dibilang pelit, yah begitulah orang
Pagi-pagi… sore-sore… di antara penderitaan itu, aku banyak belajar dari anak-anakku. Selama perjalanan ke sekolah anak-anakku menikmati dendang suara kumbang “kuraes”, memunguti ranting kecil, berhenti saat melewati sebuah sekolah tk, sejenak menonton murid-murid di arena bermain. Sementara itu aku harus memberi mereka kesempatan observasi, padahal jantung ini empot-empotan karena waktu sudah melewati jam belajar pertama. Untung guru Isal pengertian. Kami selalu diskusi untuk progress Faisal. Anakku menjalani sekolah di
Sekedar gambaran, kami berangkat paling telat jam 06.00 pagi bersamaan dengan remaja sekolah, para dewasa bekerja; berebut angkot, tak seorang pun mau ngalah sama ibu hamil yang gembol dua anak. Seringkali jalanan macet; waktu perjalanan tercepat 2 jam.
Hal yang tak jauh beda dengan saat menjemput pulang. Kami harus menunggu lama angkot yang kosong. Alhamdulillah dapat seat paling ujung (dekat pintu). Aku menjaga anak-anakku dan diriku sendiri sebisanya agar tidak terjatuh hingga tiba di rumah antara pukul 1900-1930 wib.
Meski sempat tertidur di perjalanan, anak-anakku masih sempat menahan lelah mereka dengan dongeng ataupun teka-teki sebelum tidur.
“Aku tidur di siang hari tapi bangun di malam hari. Siapa aku?” tanyaku. “Bulung hantu!” jawab Nahdia.
“Kelelawar!” Isal tak kalah sengit.
Aku senang mereka masih bisa gembira setelah siang hari yang melelahkan. “Sekarang, ada gak ya.. yang tidak pernah tidur?” tanyaku lagi.
Pahlawanku Isal menjawab spontan, “Ibu!” Aahh… Padahal aku Cuma tidur tidak berapa lama setelah dia terpejam; dan bangun sebelum dia terjaga…
Setelah aku jelaskan bahwa hanya Allah yang tak pernah tidur. Bahkan Allah menjaga kita selagi kita tidur sekalipun, aku mengusap kepala mereka. Nahdia duluan tidur.
Pertanyaan terakhir untuk Isal, “Sal ingin Ibu berbuat apa untuk Isal? Maaf kalau Ibu sering memaksa ya…” dia memeluk aku dan berkata, “Aku sayang Ibu…”
Ya Allah, di tengah kelelahanku Engkau hibur aku dengan kisah nyata ini! Aku tak bisa menahan tangis. Anak-anakku yang dinamis beristirahat hampir setiap malam sekurang-kurangnya jam 21.00.
Ibu repot ya…?” Tanya Isal suatu pagi dalam angkot menuju sekolah. “Sedikit…?’ aku menahan haru.
Incoming search terms for the article:
- kisah tentang anakku adalah
- anakku rewel mogok sekolah
- blog cerita tentang anak-anak
- blog tentang anak
- Cerita aku adopsi anakku sendiri
- cerita dewasa aku dan suami anak ku
- cerita memaksa ibuku
- cerita tentang anak ku
Artikel terkait:
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
|
Belajar Jadi Affiliate Sukses Cocok Untuk pemula yang masih gaptek banget dengan bisnis online. |
Panduan Bisnis Clickbank Panduan Terbaik Jualan di Clickbank dengan cara SEO dan Adwords. |






November 8th, 2009 at 7:19 pm
Salam kenal
websitenya bagus dan sangat informatif. Kalo ada rekan-rekan yang buah hatinya rewel saat makan atau susah makan, mampir ya ke website saya, disitu ada solusinya. Oya ada juga solusi untuk anak berhasil dalam belajar.
Thanks