oleh: Annis D. Raksanagara
Tentang Siti, jadi ingat kemarin. Saya di Bandung dari Senin, Amira di Bogor dengan nenek kakeknya. Selasa pagi mereka ke rumah adik saya yang mengkhitankan anaknya, setelah itu ke Bandung.
Sampai di Bandung didrop di ITB, menemani saya hampir 1 jam. Pulangnya ke Bursa buku di PvJ Sukajadi sampai magrib. Mestinya sih dia cape ya?
Tapi, yang ada, dia masih sangat punya energi untuk berdebat dan bercerita.
Berdebat untuk urusan mandi. Dia tidak mau mandi, padahal kakeknya sudah sengaja menyiapkan air hangat
(jangan dibahas : kok bukan ibunya ya…hehe).
K (Aki): Amira mandi dulu ya.
A (Amira) : Mengapa harus mandi? Tidak mandi nggak masalah kan?
K : Tapi badannya lengket karena keringat
A : Nggak tuh…
(dan beberapa alasan lain dari Aki yang selalu dijawab, nggak tuh…)
Saya dan Neneknya senyum saja. Gaya komunikasi mereka memang kayak Tom n Jerry.
Akhirnya Amira minta dukungan saya agar dia tidak perlu mandi.
A : Gak perlu mandi kan, Mah? Ya, kan? Ya, kan?
Dia berkata sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya. Halah, bapaknya banget. Kali ini saya juga tidak boleh kalah set.
M (saya) : Sekarang kita hitung apa saja kerugiannya kalau Amira mandi.
A, merasa di atas angin : Harus buka baju.
M : Satu. Apa lagi?
A : Harus ke kamar mandi.
M : Dua. Apalagi?
A : Harus pake sabun.
M : Memangnya rugi? Gak kan? Berarti ada dua ya ruginya. Sekarang, apa untungnya kalau Amira mandi?
Amira menjawab dan saya menghitung, badan segar, kuman hilang, wangi, aki senang, bersih.
M : Wah, ada lima ya untungnya. Kalau Amira mandi, ruginya ada dua, tapi untungnya lima.
Amira pun dengan ikhlas membuka sendiri bajunya dan mandi dengan semangat.
Badan segar membuatnya punya energi baru. Masuk kamar, bukannya tidur, dia mainkan 9 buku tulis barunya. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan karena saya di situ sambil merapikan kamar. Amira ngoceh sendiri, membuat cerita dari gambar-gambar di sampul buku. Begitu saya sadar dia sudah berimajinasi ke mana-mana, saya jadi berpura-pura tetap sibuk dan tidak memperhatikannya. Tapi saya nguping. (Rupanya nenek kakeknya juga mendengarkan dari ruang lain). Lebih dari setengah jam dia bercerita. Kalau ditulis bisa lebih dari dua buku nih..
Amira belum lancar menulis. Mungkin nanti setelah beberapa saat di SD saya ajari ngetik di komputer. Salam saja dulu untuk ‘Kakak-kakak di Salman’ yang masih sering dia sebut dalam cerita-ceritanya.
Salam,
Annis
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan |
Bisnis Hosting



