oleh: Landy
“Terkadang ALLAH menyembunyikan Mentari,
DIA datangkan Petir dan Kilat.
Kita menangis dan bertanya – tanya kemana hilangnya mentari. Rupa – rupanya ALLAH hendak memberikan kita pelangi.. . ”
“Tidak ada yang salah! Ya tidak ada yang salah dengan dia,” ucap batinku berkali-kali. Mungkin benar apa yang dikatakan suamiku, Ariel hanya terlambat bicara, bukankah wajar anak terlambat bicara. Tapi sekuat apapun aku mencoba menyangkal, mencari pembenaran atas segala kekurangan dan ketidakmampuannya, semakin kekurangan itu terlihat.
Ada yang salah dengan Ariel, ya ada yang salah, tapi apa!!!. Tak ada satupun dari kami tahu apa yang menyebabkan keanehan pada dirinya.
Tatapannya tanpa ekspresi, seakan dia tak menyadari keberadaanku disampingnya, teramat asik dia dengan dunianya. Sehingga tak memperdulikan sekelilingnya, ingin rasanya menerobos masuk kedalam pikirannya dan membawa dia kembali kesini, ke dunia yang sekarang ditempati.
“Ariel, ini bunda nak, coba bilang BUNDA, BUNNNNNNNNNN DAAAAAAAAAAAA.”
Ya Allah, rasanya aku sedang berbicara dengan benda mati, beribu kalipun kalimat itu aku ucapkan dia tetap tak bergeming, tetap asik dengan dunia kecilnya, dunia yang entah seperti apa wujudnya.
“Ariel, ini bunda nak, coba bilang BUNDA, BUNNNNNNNNNN DAAAAAAAAAAAA.”
Ya Allah apa teramat mahal kata itu, sehingga teramat susah keluar dari mulutnya. Apa aku terlalu berlebihan ketika ingin mendengar ia mengucapkan kata itu. Tapi aku ibunya, yang melahirkannya, apa salah Ya Allah? Ya Allah apa yang terjadi dengan anakku, cobaan apa lagi !
“Rasanya ada yang salah dengan Ariel mas?”
“Salah gimana, dia hanya terlambat bicara.”
“Gak mas, ada yang salah, aku dulu pernah mengajar sempoa untuk anak autis, dan rasanya Ariel agak mirip kasusnya dengan dia”
“Kamu ini ngomong apa sih?”
“Ya udah, kalau mas gak mau nganter, biar aku sendiri yang ke Dokter besok!”
“Anak ibu menderita autis …”
Kalimat itu begitu mudah keluar dari mulut dokter yang ada di hadapanku. Begitu ringannya, tanpa memikirkan perasaanku yang hancur berkeping-keping, aku tertunduk pasrah, seakan kekuatan yang ada tak mampu membendung airmataku. Aku merasa saat ini dunia ditaruh di pundahku.
Terbayang jelas di benakku masa depan seperti apa yang kelak harus di jalani Ariel.
Ariel autis, anakku autis. Aku ibu dari seorang anak autis. Ya, sebuah kenyataan yang sangat sakit untuk diterima, tapi terpaksa aku telan.
Seharian aku tak bicara, berharap ini sebuah mimpi yang akan segera berakhir ketika aku terjaga. Tapi ternyata ini bukan mimpi, ini sesuatu yang nyata, anakku menderia Autis, dan ini berarti sebuah kesabaran
tingkat tinggi sedang diuji.
Ya Allah aku mencintai Ariel lebih dari apa pun yang ada dimuka bumi, tapi kenapa dengan anakku. Ariel adalah segalanya yang aku inginkan, dia matahariku.
Ketika berada di dalam kandungan telah kujaga ia, kupastikan tiada yang salah dengan dirinya. Ariel autis, anakku autis, begitu menyakitkannya kenyataan ini, meluluh lantahkan tanpa tersisa seluruh impianku.
Berulang kali aku meyakinkan diri, bahwa semuanya akan baik-baik saja, semua akan bisa dilalui, tapi nyatanya!!!, semua tidak baik-baik saja. Ariel masih tetap asik dengan kesendiriannya. Tanpa sedikitpun merasakan keberadaanku sebagai ibunya. Dan aku masih seperti orang gila dengan sebuah harapan Ariel kembali normal seperti anak-anak lainnya.
Ada kerentanan dan kejujuran yang lembut diwajahnya, tapi kenapa dia seolah tak melihatku, tak merasakan keberadaanku! Ariel ini Bunda nak! Jantungnya masih berdetak, ya berdetak, tapi kenapa tatapannya begitu kosong, seakan entah berada di dunia mana putraku ini.
Hati ku merasa di cabik-cabik, ketika melihat sesuatu yang salah dengan anakku, tetapi aku tak bisa berbuat apa-apa untuk sekadar membuatnya sadar akan dunianya, bukan dunia keparat yang ada di kepalanya. Ariel
ini Bunda nak !
Adakah sebuah lorong yang bisa mengantarkan aku kepada pikiran anakku, sehingga aku bisa masuk kesana, membawa kembali matahari kecilku agar “mampu” menjadi penghuni “dunia”.
Ariel ini Bunda nak !
Rasanya teriakanku hanya menembus dinding hampa, kembali aku harus menerima kekalahan dari sejuta kekalahan. Kadang aku merasa gila sendiri, seolah mendengar Ariel mengucapkan kata Bunda untukku, tapi kenyataannya itu hanya hayalku, rasa kepengharapanku yang terlalu berlebih terhadapnya.
Tak ada bayangan sama sekali apa yang akan terjadi kedepannya, rasanya aku seperti dipaksa menelan bulat-bulat gumpalan daging tanpa boleh mengunyahnya terlebih dahulu, ronggaku tersedak, tubuhku seolah lemas tak bisa digerakan, tersungkur pasrah menerima semua ini. Menerima sebuah
kenyataan yang terjadi dengan Ariel.
Aku tahu ada yang salah, tapi aku tidak sanggup memahami situasi ini. Aku tak tahu dengan cara apa aku bisa menyelamatkan putraku dari takdir mengerikan yang dideritanya. Sungguh aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
Maaf kan kami Ariel, maafkan Bunda………______
(from Landy at landy_akbar@yahoo.com)
Incoming search terms for the article:
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Belajar Bisnis Internet | Panduan Hosting Gratis |
Belajar Wordpress




February 8th, 2008 at 7:06 am
sabar bunda…
semua manusia tidak ada yang sempurna…jadi…pasti ada sesuatu yang sangat istimewa juga pada Ariel…
March 10th, 2008 at 5:31 pm
sebagai seorang ibu, saya sangat bisa merasakan perasaan yg ibu rasakan…kalo urusannya dengan anak, rasanya kita pengen ya bu bertukar nyawa dengan dia….saya hanya bisa mendoakan ibu semoga Allah SWT akan senantiasa menjaga kesabaran yg Ibu miliki dan yakinlah bahwa Ariel adalah “pelangi” buat ayah bundanya di surga nanti. Amin ya Robbal Alamin
April 14th, 2008 at 7:17 am
Yakinlah Bunda, bahwa Allah tidak akan menguji seseorang melebihi kemampuannya. Dan manakala Allah anugerahkan seorang Anak Spesial buat Bunda, karena Allah Maha Tahu, bahwa Bunda lah orang yang tepat dan mampu mengemban amanah tersebut.
December 17th, 2009 at 6:37 pm
saya pernah melihat beberapa talk show yang membahas mengenai anak-anak autis, salah duanya adalah di Oprah Winfrey’s Show dan Kick Andy…
para orang tua yang di anugerahi anak-anak “spesial” ini sungguh sangat luar biasa, walau pada awalnya mereka melakukan hal yang sama seperti bunda, yaitu melakukan penyangkalan “mengapa aku, mengapa anakku, apa yang salah denganku?, apakah ini sebuah hukuman Tuhan?” dan semacam, namun pada akhirnya mereka dapat bangkit, menerima kenyataan serta menghadapinya dengan penuh ketegaran.
Mungkin saya memang belum menjadi seorang “bunda”,namun saya percaya setiap anak yang dilahirkan adalah anugerah…saya setuju bahwa Allah tidak akan memberi cobaan yang melebihi kemampuan umat-Nya, Allah senantiasa akan bersama umat-Nya yang tawakal dan berusaha.Banyak orang di luar sana yang sangat mengharapkan “amanah” dari Allah tersebut hadir di tengah-tengah keluarga mereka, namun tak kunjung juga hadir. Percayalah Bunda, ketabahan dan usaha seorang anak adam dalam menghadapai cobaan hidup tiadalah pernah sia-sia…
June 10th, 2010 at 9:10 am
Salam dari Facebook Autis Bali
Mohon ijin link ke blog anda
Terima kasih