DUNIA PARENTING | Bisnis di Rumah | Bisnis Hosting | KIRIM ARTIKEL | PENDAFTARAN JADI PENULIS

Selamat datang di Blog Family Writing

Tanpa kita sadari, ternyata banyak hal tak bisa kita ungkap dengan berbicara. Anehnya ketika tercurah lewat tulisan, gelora itu melesat keluar begitu saja. Jiwa kita terbebas dengan keluarnya kata demi kata.

Kita semua pasti punya cerita. Tak peduli kita penulis profesional atau bukan. Karena itu kami undang Anda menuliskan cerita-cerita Anda. Caranya mudah sekali. Bergabung, lalu Login dengan username dan password Anda, lalu mulailah bercerita. Ayo Bergabung! Klik Disini.

 
TRAINING GRATIS MEMBANGUN BISNIS ONLINE DAN INTERNET MARKETING, 100% GRATIS!
Jangan sampai terlambat! Hari ini daftar, dan langsung praktek. Benar-benar GRATIS! Klik Disini!
  EBOOK BARU: CARA MENGATASI BERBAGAI KESULITAN MENGAJAR ANAK BISA DAN SUKA MEMBACA
Ebook Plus Bahan-Bahan Mengajar dengan pendekatan Multi-Metode Download Disini!
Mon
19
Nov

Anak Autis Itu Telah Kembali

Posting byredaksi

oleh : Dwinu Panduprakarsa

Kami tak mampu berkata sepatahpun hanya ada kesedihan di pelupuk mata, ketika mengetahui ada anak autis yang hilang.  

Ilham, namanya. Usianya 13 tahun. Ia hilang sejak 16 Oktober 2007. Tulisan ini ditulis ketika ia baru saja ditemukan di sekitar Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sekitar 30 kilometer dari rumahnya di Bintaro dan setelah 8 hari lamanya.

Tulisan ini merupakan bentuk rasa bahagia dan syukur kami atas ditemukannya Ilham.Ilham yang cenderung hiperaktif dan tak mampu berkomunikasi ini keluar dari rumahnya, ketika kebetulan ibunya lupa mengunci pintu. Ia leluasa keluar dan mampir ke tetangga sebelah rumahnya.

Sungguh, bagi kami orang tua yang memiliki anak penyandang autis, kejadian ini membuat kami ikut bersedih. Seakan-akan yang hilang itu anak kami sendiri. Kami hanya bisa membayangkan sulitnya menemukan anak yang hilang. Lebih sulit lagi, anak yang hilang ini merupakan anak autis yang sangat kurang, dan cenderung tak mampu berkomunikasi dua arah.

Mencari anak hilang  yang normal saja, dalam arti bisa berkomunikasi dan bisa berbicara,  sulitnya minta ampun, apalagi jika anak yang dicari ini tak mampu berkomunikasi dan  berbicara. Bagaikan mencari jarum di dalam tumpukan jerami.

Yang membuat kami lebih sedih, ternyata Ilham pergi, setelah sebelumnya sempat mampir ke rumah tetangga. Sejenak kemudian, Ilham diusir oleh tetangganya, karena Ilham mengganggu kenyamanan mereka yang sedang menonton film dari VCD.

Memang, biasanya anak autis senang kepada televisi. Jika melihat televisi ia akan menekan tombol-tombol saluran yang ada di televisi ini dengan tidak beraturan. Mungkin ini yang membuat kesal tetangganya, dan kemudian mengusir Ilham.

Kejadian ini membuat kami teringat anak perempuan kami, Tita. Ia penyandang autis juga. Sudah banyak kemajuan yang mampu dilakukannya pada usianya yang menginjak sembilan tahun. Tetapi tetap saja ciri-ciri autisnya tetap ada.

Dulu, kejadian seperti ini pernah kami alami beberapa kali. Hanya saja tetangga-tetangga saya sudah sangat mengerti. Sehingga biasanya jika kejadian seperti Ilham terjadi, Tita pasti diantar langsung ke rumah kami.

Maklumlah, keluarga kami hanya keluarga kecil dan tidak berkelebihan. Kami tak mampu mengupah orang lain untuk menjaga Tita. Kepada ibunda-nya saja Tita dipercayakan pengasuhannya.

Namun begitu, kami menyadari suatu saat bunda-nya Tita pasti lengah. Sebab, urusan rumah tangga kami yang ditanganinya sendiri, pasti membuatnya sering mengalami kesulitan. Belum lagi urusan terapi Tita sepanjang hari, ditambah lagi adiknya yang membutuhkan perhatian juga.

Untuk mengatasinya, kami sering beranjangsana ke rumah tetangga sambil membawa Tita di waktu senggang. Saya sendiri, kadang bersama istri perlahan-lahan mengenalkan Tita pada keluarga yang menjadi tetangga kami, juga tetangga-tetangga sekeliling komplek.  Biasanya kami berterus terang dengan kondisi Tita kepada mereka, dan selalu memohon pengertian akan kondisi anak kami. Serta kami akan berusaha menjadi tetangga yang baik kepada mereka. Dan berusaha mengurangi konflik dengan tetangga seminimal mungkin, agar mereka bisa membantu kami, bila ada kejadian seperti Ilham terjadi.

Setelah itu, ada tetangga yang bilang pada saya, aib keluarga kenapa
diberitahukan kepada orang banyak. Kami menjawab, anak kami bukan aib. Dia titipan dariNYA. Dan kami bangga ketika Tita menjadi salah satu bagian dalam episode kehidupan ini. Berkat  Tita, kami menjadi makin sadar akan kelebihan dan kekurangan orang lain.

Selain itu, banyak kemajuan penting buat saya, ayahnya, yang saya capai sejak Tita terdiagnosa autis. Karir serta penghasilan terus meningkat seiring waktu, meski bermodalkan ijazah  seadanya. Semua itu tak terbayangkan, bahkan sesaat sempat putus asa mengetahui anak kami autis di tahun 2000.

Di waktu-waktu terakhir ini banyak pertanyaan dari keluarga dan rekan-rekan saya. Mereka menanyakan, ada sebuah buku mengenai seorang ayah, yang anaknya autis terpajang di toko buku. Nama penulisnya sama dengan nama saya. 

Satu pertanyaan yang banyak mereka tanyakan kepada saya, sejak kapan menjadi penulis. Saya hanya tersenyum saja mendengarnya.

Jelas mereka tak pernah tahu, bahkan istri saya pun tidak pernah tahu. Lembar demi lembar buku harian yang bertaburan air mata sudah saya tulis, untuk menghilangkan kesedihan dan keputus-asaan memiliki anak autis. Tulisan yang ada dalam buku itu hanyalah beberapa diantaranya.

Pada akhirnya, hanya rasa syukur yang dapat saya panjatkan atas rahmat illahi, sehingga saya memiliki kesempatan untuk mengabdi padaNYA lewat kekurangan anak saya.

Sungguh begitu berat memiliki anak yang berbeda. Apalagi sering mendapat perlakuan yang tidak layak dari lingkungan rumah, dan tentu saja keluarga yang paling dekat sekalipun.Yang kadang tidak mengerti dan tidak tahu situasi, lalu menjelma menjadi sosok ahli yang kadang lebih sok tahu dari kami, yang telah berusaha bertahun-tahun mengatasi kesulitan ini.    

Dulu, di lingkungan kami, seringkali orang sulit memahami. Dan biasanya langsung mengambil kesimpulan anak autis itu sama dengan orang yang sakit jiwa. Ungkapan ini pernah kami rasakan serta dengar langsung, di tahun-tahun yang lalu. Kini keadaannya sudah lebih baik.

Padahal kalau mereka mau berfikir sedikit saja, tidak akan pernah kita menemukan orang sakit jiwa yang berusia balita. Semua penyandang penyakit jiwa pasti terjadi setelah masa anak-anak atau remaja lewat.

Sedih, melihat masyarakat kita terlalu mudah memberikan stigma kepada orang lain yang berbeda dengan manusia kebanyakan. 

Pagi ini, saya bersyukur kepadaNYA, pernah berkenalan dan berteman dengan para ibu dan bapak yang peduli serta terpercaya, yang telah dipersatukan oleh milis www.puterakembara.org  sehingga kejadian yang menegangkan selama 8 hari ini, mampu diatasi dan berakhir bahagia.

Tidak bermaksud menggurui atau menasehati, hanya sekedar curahan hati yang galau mendengar ada anak autis yang hilang berkali-kali di negerinya sendiri. Semoga ini yang terakhir terjadi.

Jakarta, October 25, 2007 

Sphere: Related Content

Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.




Dunia Parenting - Buku Anak di Facebook
 Print Artikel Ini

Artikel ini diterbitkan oleh Blog Family Writing dan pertama kali dipublikasikan pada tanggal 19 November 2007. Artikel ini bebas ditulis ulang untuk keperluan non-komersial selama mencantumkan nama penulis dan sumber (URL) halaman yang dikutip dan tidak mengubah isinya.

Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Bisnis Internet | Bisnis Sampingan | Bisnis Hosting

Author:
redaksi
Time:
Monday, November 19th, 2007 at 3:44 pm
Category:
Curhat
Comments:
You can leave a response, or trackback from your own site.
RSS:
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
Navigation:

7 Responses to “Anak Autis Itu Telah Kembali”

  1. riswanto Says:

    Anak kami yang pertama (10 tahun) dulunya autis, kenapa dulu autis..karena ia kini telah terbebas dari autis, dengan metode non medis. Apalagi dulu ia hiperaktif dan telat bicara. Hiperaktifnyapun kin hilang hanya dalam waktu 4 bulan terapi. Saya sering menginformasikan baik melalui internet maupun buletin yang saya buat , bahwa ada metode non medis yang mampu menyembuhkan anak hiperaktif,autis,adhd . kenapa ke medis yang tidak ada obatnya..Anak kami saat ini di kelas 3 , rangking 3 ,,,silahkan bila anda ingin informasi atau ingin berkunjung ke 0274 652 0969 atau 081 5780 54182.ohya iapun suka menggambar..dalam hitungan detik ia bisa buat sketsa ..salam autis

  2. dsusetyo Says:

    Pak Riswanto terima kasih infonya. Boleh tahu email Anda?

  3. yanti Says:

    Alhamdulillah… satu lagi blog yang bikin saya makin “kuat”… Terima kasih..
    Kalau gak keberatan… saya juga punya beberapa posting tentang keluarga… buka ya…
    di :

  4. Laki Says:

    Saya ketemu informasi mencengangkan bhw ada jg anak autis yg bisa tumbuh tnp terapi macam-macam. Coba cek di http://wilmana.wordpress.com

  5. Ibu Rina Says:

    Salam kenal semua,
    Satu hal yang patut ditiru dari pengalaman Pak Riswanto yaitu “terapi non medis” dan ada satu saran tambahan dari saya “terapi non intervensi” terutama ketika Anak divonis Autis pada usia balita. Saya sediakan waktu setiap pagi untuk menjawab konsultasi apapun tentang masalah balita di terapi.karakter@gmail.com.

  6. Ibu Rina Says:

    Saya sudah baca tentang HAGA di Wilmana.Wordpress.com, contoh bagus bagi orangtua untuk “Tunda diagnosa Autis sampai Anak HUT ke-5″. Saya praktisi pendidikan balita dan 2 th ini sangat prihatin dengan “metode terapi medis dan terapi intervensi” terhadap Anak balita yang didiagnosa sindrome Autis. Silahkan konsultasi apapun tentang Balita di terapi.karakter@gmail.com,
    setiap pagi saya luangkan waktu untuk memberi solusi. tks

  7. jaka Says:

    Sungguh menyentuh setiap kali membaca kisah anak2 autis. Putri kami Azmi 4 thn divonis tunarungu sejak umur 1 thn (90-100 decibel).Awalnya kami pikir sikap cueknya dan telat bicaranya karena dia tuna rungu, ternyata teman kami seorang psikolog melihat adanya gejala autis pada diri Azmi.Mengingat putri kami ini tunarungu, apakah penanganan gejala autisnya akan berbeda dengan anak autis lainnya?Kami sangat membutuhkan masukan, apalagi kami tinggal di luar pulau jawa yg terbatas fasilitasnya, terima kasih.

Leave a Reply



Pustaka Nilna | Internet Bisnis | Sekolah Menulis | Bisnis Internet | Internet Money | Jurnal Profesi
Tips & Article | Dunia Parenting | Pendidikan Rumah | Jurnalistik | Belajar Membaca | Keynote Speaker | Bisnis Hosting