Beberapa waktu yang lalu saya berkesempatan mengunjungi mesjid tertua di Guang Zhou. Memang indah sekali dan khas China arsitekturnya.
Kebetulan hari itu hari Jum’at jadi mesjid penuh dengan jemaah, dengan berbagai negara, jadi seperti di Mekah dalam miniatur. Tata cara sholat yang berbeda, dan semuanya dapat rukun saja.
Ada orang tua yang sholat dibarisan belakang duduk ditempat. Yang sepenglihatan saya mirip kuda-kuda-an. He he saya tak dapat menahan senyum melihatnya. Aneh….
Ada ibu-ibu yang menggendong bayinya sambil sholat dan sesekali membetulkan letak bayinya. He he saya dibelakangnya jadi kelihatan dikit walau sama-sama sholat(wah saya batal tidak ya sholatnya?) wallahu ‘alam.
Lalu ada nenek-nenek tua yang terlambat sholat, susah payah dia menaiki kudanya. Kebetulan saya sholat di bagian belakang sebelah tempat duduk itu. Jadi saya ikut digeser- geser sama nenek itu. Herannya nenek sebelahnya yang lagi sholat membantu dia naik kuda-kudaan itu, wewlwh..ampun Gusti Allah saya jadi ngga khusu’
Ada hal yang masih mengganggu bathin saya sampai saat ini. Seminggu sebelumnya saya saksikan salah satu kota di China ini. Sangat bersih dan teratur. Sebanyak itu penduduk lokal dan pendatang tapi mereka kok bisa tertib. Hanya bau makanan saja dan babi yang tergantung itu yang membuat saya mual. Selain itu ok sekali.
Ditempat-tempat fashion, baik itu yang ready ataupun masih bahan baku, sangat mengherankan tidak ada orang tua yang belanja laiknya di kita. Semua anak muda, gerakannya gesit dan sangat fashion penampilannya. Semua kelihatan fokus. Kemana ya anak anak muda lain yang seperti dikita, yang duduk atau keliaran nganggur atau seperti “preman”. Barangkali dibelahan lain dikota ini, fikir saya. Sampai pulang saya tidak menemukan itu.
Luar biasa, bagaimana pemerintah China bisa memaksa penduduknya yang sangat banyak untuk seperti itu? Dulu saya fikir di Jakarta yang acakadul karena terlalu banyak penduduk, tapi rupanya bukan itu juga ya.
Nah yang mengganggu bathin saya, di dekat mesjid itu banyak pengemis, beberapa sampah bau, air yang kotor luber ke jalan, orang orang meludah sembarangan, duh kok adanya disini ya, saya menemukan disini dekat mesjid. Bahkan dipintu mesjidnya.
Selain pengemis yang menadahkan tangan juga berbaris orang teriak-teriak minta sedekah, saya tidak mengerti, apa yang diucapkan tapi melihat dia bawa kantong uang receh, mestinya mereka minta sedekah….
Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa kita seperti itu ya, coba deh lihat dibelahan dunia lain, barangkali seperti itu juga, identik dengan kotor, bau (karpetnya bau sekali, karena basah orang habis wudlu barangkali, jadi tidak kering ketika melangkah ke mesjid). Sesak rasanya dada saya.
Ketika kami belanja, baik itu ditempat gift atau di tempat lain, kami diingatkan kalau harus hati hati menjaga barang berharga, karena ……….. banyak orang Pakistan (ini kata mereka, menyebut demikian) yang suka mencuri sangat cepat katanya….
Wah makin sedih saya, bukannya kebanyakan dari mereka juga Muslim?
Malam hari kami bawa guide yang selama ini menemani ke restaurant Indonesia. Dia Budha dan vegetarian. Jadi kalau kepepet tidak dapat makanan ya bisa ikut ketempat dia makan, semua vegetarian. Yang saya ingat, ketika dia selalu tandas menghabiskan nasi dan makanan, tidak tahan untuk bertanya.
Saya akhirnya bertanya juga: wah makannya pintar ya?” Dia jawab, “disetiap butir nasi, ada sejuta keringat petani…”
Subhanallah mestinya kita juga begitu ya, tidak bertindak mubadzir dan berlebihan ………………
Demikian singkat cerita saya
Jakarta 3 Des 2007
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Belajar Bisnis Internet | Panduan Hosting Gratis |
Belajar Wordpress



