Neneknya mas Amor mbarep punya adik 17 orang, dari satu bapak satu ibu, jadi mereka bersaudara 18 orang. Ketika kami menikah dulu, dikenalin neneknya yang masih ada 13 orang. Setiap mudik kami berusaha mengunjungi minimal yang tinggal di sekitar Blitar. Sekarang nenek bersaudara itu tinggal 7 orang.
Ibu adalah anak satu-satunya dari nenek ke-1. Ibu lahir ketika neneknya punya anak ketujuh. Jadi ibu itu lebih tua dari 11 tantenya yang kemudian lahir. Hebat ya nenek itu. Coba kalau jaman sekarang, saya mengurus 3 anak saja sudah repot. Saya salut deh sama nenek, bagaimana dia mengatur semuanya. Aduh membayangkannya aja udah pusing duluan. Tapi sepertinya kalau lihat photo-photo beliau tidak ada pusingnya. Mimiknya gembira dan katanya memang lucu orangnya……
Nenek yang ragil, yang paling lincah, beliau cukup aktif, juga merupakan wanita karir. Pernah mejeng dengan Suharto di Tapos. Photo-photo dengan para menteri dipasang di dinding, juga dengan pejabat lain. Biasanya kalau kami berkunjung selalu diceritakan tentang photo-photo itu, sampai hapal he he. Diam-diam dalam hati saya mengingat-ngingat dan bermohon agar saya tidak mengulang-ngulang cerita yang sama, karena disamping tidak seru, pasti juga membosankan.
Namun bagaimanapun saya banyak belajar pada nenek ini. Pada semangatnya, pada cintanya pada keluarga, ketabahannya dan masih banyak lagi.
Eh tapi saya harus jujur. Ada satu yang tidak akan saya turuti dari nenek ini. Dia menasehatkan saya begini, ”Kalau suamimu kawin lagi, jangan marah, kamu harus tetap melayani dengan lebih baik, jaga anak anak dengan baik, pasti suamimu akan kembali padamu, karena itu hanya selingan bagi laki-laki. Pada dasarnya para laki-laki itu poligamis, dia akan kembali ke keluarganya”.
“Huh enak saja … ” batin saya, “ngga janji deh”.
Lebaran lalu, seperti biasa kami berkunjung. Tidak ada yang aneh dalam penampilannya kecuali semakin terlihat sepuh. Rumahnya tidak lagi apik tertata karena sudah banyak cucu yang cukup heboh membuat kapal pecah, namun sinar bahagia terpancar di wajahnya, menyaksikan ulah cucu dan cicitnya.
Seperti biasa pertanyaan “wajib” yang diajukan adalah kapan datang dari Jakarta. Dan saya jawab, “hari kamis”.
Tak lama setelah ngobrol beliau tanya lagi, ”Kapan dari Jakarta?” Saya jawab kamis. Tapi rupanya itu bukan pertanyaan kedua kalinya, karena saya hitung pertanyaan serupa diajukan lebih dari 5 kali!!!.
Juga pertanyaan, “Hana sudah tingkat berapa?” Saya tersadar dengan keanehan itu dan meyakini kalau nenek itu………….. sudah mulai pikun!
Betapa cepat rasanya semua berlalu. Nenek sudah tinggal tujuh, yang ragil pun mulai pikun (kalau tidak dikatakan pikun).
Duh sayapun bercermin, sudah banyak kerut di muka, sudah banyakkah amal yang saya buat? Apa yang sudah saya kerjakan dan amalkan, mudah mudahan belum terlambat!!
Blitar, 16 Oktober 2007
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
Print Artikel Ini
Baca juga artikel menarik lainnya di:
Sekolah Menulis | Jurnal Pustaka Nilna | Belajar Bisnis Internet | Panduan Hosting Gratis |
Belajar Wordpress



