Pernah dengar cholostrum? Tentu terutama bagi ibu-ibu kata ini tidak asing lagi. Setiap ibu akan berusaha memberikan cholostrum ASI nya yang pertama kepada bayinya.
Akhir akhir ini seringkali saya ditawari untk membeli cholostrum yang sudah dikemas dalam bentuk bubuk, dengan berbagai merck. Tentu saja dengan berbagai promosi khasiatnya, namun harganya juga tidak murah bahkan bisa dikatakan sangat mahal. Bukan tentang khasiatnya yang ingin saya ceritakan, karena khasiatnya inipun sudah menjadi pengetahuan umum.
Tentang cholostrum ini pun pernah kami perbincangkan beberapa kali di kantornya bu Feny (shafira-red), biasanya menjelang rapat atau sesudahnya. Sangat seru. Salah satu direkturnya malah peminum cholostrum ini.
Saya jadi teringat pada anak sapi di kampung. Pada saat mudik kemaren kami kedatangan keluarga pak Mahfudin. Kami sangat surprise karena bisa bertemu di kampung. Keluarga ini memang hobby nya travelling, jadi tidak heran kalau di desa kami pun hanya beberapa jam saja, karena mereka berencana ke Madura juga.
Namun waktu yang singkat itu mudah-mudahan cukup memberikan pengalaman yang unik. Terutama bagi putra putrinya, yang langsung menuju kandang sapi dengan semangat memberi makan sapi sapi.
Sore hari, kebetulan ada sapi yang mau melahirkan. Ternyata sungsang. Aduh saya sih tidak tega, rasanya kok seperti melihat diri sendiri ketika mau melahirkan. Jadi saya jauh-jauh saja melihatnya.
Tidak demikian dengan keluarga pak Mahfudin, yang sempat membantu menarik anak sapi,dari perut induknya, karena dengan tenaga laki-laki 4 orang rupanya belum cukup. Bu Feny malah tenang-tenang saja menyaksikan. Anak anaknya heboh mengabadikan moment ini, sambil berseru-seru “kasihan… kasihan” katanya.
Kejadiaan kelahiran yang sungsang ini rupanya seringkali terjadi, barangkali karena sapinya besar dan si induk ditambatkan saja. Tapi memang dilematis, mau di lepas dimana, lha wong adanya di perumahan.
Inipula yang mendorong kami untuk mulai merelokasi sapi-sapi itu ke tempat yang jauh dari penduduk, walau tidak mudah dan tidak murah.
Biasanya kalau terlalu sulit lahirnya, harus diambil pilihan, salah satu harus dikorbankan, karena kelahiran sungsang ini akan membuat anak dan induknya mati. Keponakan saya cukup terampil dan berpengalaman dalam menangani kelahiran sapi ini. Profesinya sebagai mantri peternakan cukup sibuk menerima panggilan untuk menolong sapi yang kesulitan lahir.
Pas azan Maghrib lahirlah sapi itu dengan selamat. Prosedurnya hampir sama dengan kelahiran manusia juga. Sang induk dibersihkan, anaknya dipisahkan untuk dibersihkan juga, dipotong tali pusarnya, dan setelah bersih, pedhet (anak sapi) diberi susu, dalam ember, namun ditolong oleh dot bayi yang terbesar.
Tentu saja harus segera diisi lagi karena rupanya pedhet itu sangat haus. Ketika itu saya bilang pada bu Feny kalau yang diminumkan ke sapi itu (satu ember) adalah cholostrum sapi. Saya goda apa mau beliau minum. He he … Bu Feny senyam senyum saja dan bilang wah enak sekali ya. Tapi nampaknya tidak tega juga minum bareng sapi he he.
Ketika pedhet itu tidak menghabiskan jatah cholostrumnya, dengan ringan anak kandang (pemelihara sapi, kami panggil cah kandang) membuang sisanya yang masih separuh ember……. Aduh sayang sekali apalagi kalau ingat betapa mahalnya harga cholostrum sapi olahan itu. Siapa yang berminat mengolah cholostrum segar ini?
Blitar 15 Oktober 2007
Anda mau curhat, atau menceritakan kisah hebat anda? Ayo Kirimkan Sekarang Juga!
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.
|
Belajar Jadi Affiliate Sukses Cocok Untuk pemula yang masih gaptek banget dengan bisnis online. |
Panduan Bisnis Clickbank Panduan Terbaik Jualan di Clickbank dengan cara SEO dan Adwords. |





