Selamat datang di Blog Family Writing

Tanpa kita sadari, ternyata banyak hal tak bisa kita ungkap dengan berbicara. Anehnya ketika tercurah lewat tulisan, gelora itu melesat keluar begitu saja. Jiwa kita terbebas dengan keluarnya kata demi kata.

Kita semua pasti punya cerita. Tak peduli kita penulis profesional atau bukan. Karena itu kami undang Anda menuliskan cerita-cerita Anda. Caranya mudah sekali. Bergabung, lalu Login dengan username dan password Anda, lalu mulailah bercerita. Ayo Bergabung! Klik Disini.

Naskah Terbaru

Model Pendidikan Yang Nyaman Buat Anak-Anak

By admin on August 26th, 2008
Posted in pendidikan anak, Maya | No Comments »

oleh : Maya A Pujiati  

Tulisan ini saya buat berdasarkan sebuah pertanyaan yang dilontarkan salah seorang pembaca blog Pendidikan Rumah ke email saya. Pertanyaannya adalah: “Bagaiamana konsep membuat pendidikan yang nyaman buat anak didik serta menumbuhkan minat dan kreatifitas anak?”

Saya bukanlah pakar pendidikan. Jawaban saya hanyalah berdasarkan pengetahuan otodidak yang saya dapat dari buku-buku yang saya baca dan pengayaan yang saya lakukan saat berinteraksi dan mengamati anak-anak saya belajar.

Secara singkat bisa dikatakan: konsep pendidikan yang nyaman buat anak adalah model pendidikan yang sesuai dengan dunia mereka, karakter mereka, dan kebutuhan mereka. Adapun dunia anak bisa saya jelaskan sebagai berikut:

1. Anak-anak hidup dalam dunia bermain. Kalau kita ingin memasukkan nilai atau muatan pelajaran apapun pada mereka, masuklah dari dunia bermain. Contohnya: Ajari mereka memasak dengan membawa mereka ke dapur, dan biarkan alat-alat dapur sekaligus menjadi alat-alat mereka untuk bermain.

2. Bagaimanakah karakter anak-anak? Banyak teori memang terkait karakter ini. Tapi secara umum saya bisa menyimpulkan bahwa hampir semua anak terbuka terhadap hal-hal baru jika orang tuanya membuka keran untuk itu. Kalau seandainya kita adalah guru di sebuah sekolah formal, prinsipnya tidaklah jauh berbeda. Ciptakan suasana gembira dan BEBAS DARI RASA TAKUT UNTUK BERTANYA, MELAKUKAN, dan MENCOBA HAL-HAL BARU di kelas kita.

CATATAN: Hal-hal baru buat anak-anak bisa jadi merupakan sesuatu yang nggak penting buat orang dewasa. Di situlah kita harus bijak dan mengerti. Seekor ulat mungkin nggak ada hebatnya buat orang dewasa, namun begitu menarik untuk diamati dan diteliti oleh anak-anak.

3. Apakah kebutuhan anak-anak? Kebutuhan anak-anak pada setiap fase pasti berbeda dan juga amat beragam antara satu anak dengan anak lainnya. Bagi seorang guru di sebuah kelas yang terdiri dari beberapa anak, hal ini memang agak rumit. Butuh kesabaran dan kejelian mengamati semua anak dan melayani semua kebutuhan mereka. Ilmu tentang Multiple Intelligence akan membantu kita untuk mengatasi kesulitan ini.

*** 

Tentang bagaimana membangkitkan kreatifitas anak, saya jadi ingat dengan salah seorang guru SD saya dulu. Beliau mengajar kami di kelas 5 dan kelas 6. Sekolah saya dibangun dengan program SD INPRES, yang sebentar-sebentar kembali rusak dan bahkan roboh karena kualitas bahan bangunannya menyedihkan. Tapi hebatnya, guru saya yang honorer ini tetap gembira mengajar dan menurut saya sangat kreatif. Belajar bersama beliau membuat kami tidak bosan di dalam kelas dan bahkan cenderung malas untuk pulang ke rumah.

Guru saya selalu punya media yang menarik untuk menjelaskan sebuah materi pelajaran. Beliau pancing rasa ingin tahu dan ketertarikan kami dengan media-media visual yang kami buat sendiri. Sering sekali beliau memberikan tugas-tugas praktis secara berkelompok ataupun perorangan untuk membuat sesuatu, yang kini saya baru sadar, ternyata dimaksudkan untuk mempermudah visualisasi sebuah materi pelajaran. Misalnya saja, beliau tugaskan kami untuk membuat poster dengan model kliping: Gambar-gambar dari potongan koran atau majalah bekas ditempelkan di atas selembar karton putih. Poster itu lalu dipasang di dinding. Setiap kelompok kebagian topik yang berbeda-beda. Ruangan kelas kami pun menjadi semarak. Minimalnya, ada sesuatu yang enak dipandang mata saat berada di dalam kelas.

Selain itu, beliau juga mengajak kami untuk melengkapi dan meperindah sekolah dengan membuat pagar bersama-sama dari bambu. Karena kami tinggal di desa, tentu tak sulit untuk mendapatkannya. Kami bawa batang-batang bambu yang sudah dipotong-potong dengan ukuran yang sama dan siap untuk disusun dan digabungkan dengan bambu-bambu yang dibawa oleh seluruh anggota kelompok. Di sekolah kami memaku bambu-bambu itu, dan jadilah pagar-pagar buatan kami sendiri. Sungguh membuat kami bangga, lho!

Saat musim hujan tiba, kami juga punya jadwal untuk berkebun. Karena halaman sekolah kami tidak bersemen alias tanah merah yang kosong, jadi kami bisa menanaminya dengan macam-macam sayuran. Setiap hari Jumat kami membawa peralatan berkebun dari rumah. Setiap kelompok diberi jatah lahan sama rata. Supaya kami termotivasi, guru kami yang inovatif ini memberikan tantangan agar kami berlomba dalam mengurus kebun sampai kebun kami menghasilkan tanaman yang bisa dipanen.

Satu hal lagi yang masih saya ingat adalah ketika kami berlomba membuat dan menghias tumpeng dari nasi uduk yang harus kami buat dengan cara diliwet. Di halaman belakang kelas, kami membuat tungku-tungku untuk memasak. Alatnya hanya panci kastrol dan wajan. Keterampilan memasak nasi liwet adalah pelajaran yang remeh tapi menurut saya menarik dan tentunya bermanfaat. Tragedi menimpa saya saat itu. Nasi liwet yang saya buat masih mentah, padahal waktu yang diberikan sudah habis(he he). Meskipun sudah banyak konsep hiasan yang saya siapkan dari rumah,tapi semuanya tidak berarti karena nasinya nggak bisa dimakan sama sekali. Duh, sedih sekali rasanya waktu itu!

Nah, kembali ke guru saya: Saya menyimpulkan bahwa apa yang beliau lakukan dulu tidaklah tercantum dalam silabus atau kurikulum pendidikan yang diperoleh dari diknas. Buktinya, guru-guru lain di sekolah saya tidak pernah melakukan hal itu pada kelas yang dipegangnya. Apa yang beliau lakukan adalah murni hasil inovasi beliau sendiri.

Jadi, yang akan membuat anak-anak kreatif, menurut saya juga dipengaruhi oleh semangat guru-gurunya. Buat para homeschooler, maka orang tua-lah guru utamanya, dan buat anak-anak di sekolah formal, maka guru-lah yang menjadi pembimbingnya.

Selamat berkreasi buat para guru di manapun berada. Jangan lupa untuk selalu belajar dan terus belajar tanpa henti, karena pintar dan kreatifnya anak didik kita juga tergantung dari peningkatan kualitas guru-gurunya.

sumber: http://pendidikan-rumah.blogspot.com/2008/08/model-pendidikan-yang-nyaman-buat-anak_15.html

AddThis Social Bookmark Button

Belajar Membaca Untuk Anak Usia Dini

By admin on August 8th, 2008
Posted in Maya, Opini | No Comments »

oleh  Maya A Pujiati 

Bisa membaca di usia dini mungkin bukanlah segalanya. Ada hal yang lebih penting dari kemampuan membaca, yang justru agak sering terlewatkan, yaitu bagaimana membuat anak-anak senang dengan buku dan kegiatan membaca.

Jika pembentukan kebiasaan membaca kurang dibangun, tak jarang, ada anak yang sudah bisa membaca tetapi tidak tertarik dengan buku.

Akan tetapi, tidaklah pula berlebihan jika orang tua mulai menyediakan media belajar membaca (apapun itu) pada saat anak-anak terlihat begitu antusias dengan buku dan kegiatan membaca, meskipun mereka masih berusia balita atau bahkan batita. Kontroversi tentang hal tersebut memang masih selalu hangat dibicarakan dan tak pernah ada habisnya dari waktu ke waktu. Beberapa pihak bahkan melarang orang tua atau guru untuk mengajarkan keterampilan membaca pada usia dini, dengan alasan takut anak-anak jadi terbebani, sehingga mereka menjadi benci dengan kata “belajar”.

Namun sejauh pengalaman saya, selama prinsip belajar ‘fun’ yang dikembangkan, materi apapun yang diajarkan kepada anak usia dini selalu direspon dengan baik dan anak-anak suka untuk belajar. Mengajak anak-anak untuk belajar membaca menurut saya jauh lebih baik daripada membiarkan mereka menonton TV seharian. Tanpa kita sadari sesungguhnya anak-anak juga belajar sesuatu lewat TV, yang sayangnya lebih banyak berupa hal-hal negatif daripada hal-hal yang positif.

Seputar metode belajar
Metode mengajar balita membaca sangatlah beragam. Karena begitu beragamnya, lagi-lagi kita akan menemukan perbedaan dasar pemikiran dari metode-metode tersebut. Meskipun kadang-kadang sering mencuat pertentangan yang tajam antar berbagai metode, kita tak perlu bingung. Kenali saja semua konsep yang ditawarkan, dan kenali pula gaya belajar anak-anak kita. Jika metode dan gaya belajar cocok, kita bisa lebih mudah memotivasi anak untuk belajar.

Berdasarkan telaah saya, sejauh ini di dunia belajar ini dikenal 2 metode besar, yaitu metode terstruktur dan metode tidak terstruktur (acak). Keduanya tidak lebih baik atau lebih jelek dari yang lainnya. Metode terstruktur dan tidak terstruktur (acak) bisa saling melengkapi sesuai karakter dua belahan sisi otak kita yang kini populer dengan istilah otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri memiliki karakteristik yang teratur, runut (sistematis), analitis, logis, dan karakter-karakter terstruktur lainnya. Kita membutuhkan kerja otak kiri ini untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan data, angka, urutan, dan logika.

Adapun karakteristik otak kanan berhubungan dengan rima, irama, musik, gambar, dan imajinasi. Aktivitas kreatif muncul atas hasil kerja otak kanan.

Melalui deskripsi tentang karakteristik dua belahan otak tersebut, kita tentu bisa melihat bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Apa jadinya para kreator-kreator seni jika tak punya tim manajemen yang handal. Bisa kita bayangkan pula sepi dan monotonnya dunia ini jika penghuninya hanyalah para ahli matematika atau akuntansi yang selalu sibuk dengan angka. Secara personal, kita pun akan menjelma menjadi orang yang “timpang” jika tidak mampu menyeimbangkan kinerja dua sisi otak kita. Kita pun bisa tumbuh menjadi orang yang “ekstrem” dalam memandang belajar dan cara belajar.

Selain metode belajar, karakteristik anak-anak juga perlu kita ketahui dan pahami agar kita bisa merancang model-model belajar yang menarik minat anak. Beberapa karakteristik anak secara umum adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi lebih pendek (relatif)
2. Tidak suka diatur/dipaksa
3. Tidak suka dites

Ketiga ciri tersebut jelas menunjukkan kepada kita bahwa mengajar balita membaca tak bisa dilakukan dengan cara-cara orang dewasa. Kita membutuhkan teknik-teknik yang lebih bervariasi dan adaptif terhadap kecenderungan anak-anak. Dan hanya satu kegiatan yang bisa melumerkan 3 karakteristik di atas yaitu BERMAIN. Mengapa? Karena dalam bermain anak-anak tidak menemukan tes, paksaan, dan batas waktu. Ketika bermainlah anak-anak menemukan kebebasan dirinya untuk berekspresi. Ketika bermain pula mereka menemukan kesenangan mereka.

Model-model belajar membaca untuk inspirasi

1.  Belajar membaca lewat kosa kata
Kosa kata adalah pembentuk kalimat. Lewat kosa kata yang makin beragam, kalimat yang kita keluarkan pun akan semakin kaya. Lewat kosa kata, anak-anak akan belajar tak hanya kemampuan membaca tetapi juga perbendaharaan dan pemahaman akan kata-kata yang akan mereka gunakan dalam berbicara.

Variasi yang bisa digunakan diantaranya, kartu kata yang disajikan dengan model Glen Doman, poster kata yang ditempel di dinding, buku-buku bergambar yang kalimatnya pendek dan ukuran hurufnya cukup besar. Prinsip yang dipakai dari metode tersebut adalah belajar dengan melakukannya. BELAJAR MEMBACA dengan MEMBACA.

Hal-hal khusus yang menyertai model ini adalah kemungkinan anak-anak untuk mengenal pola lebih lama. Artinya, bisa jadi untuk bisa benar-benar membaca semua kata yang diperlihatkan kepada mereka (meski belum diajarkan) membutuhkan waktu yang cukup lama, tergantung kecepatan anak.

2. Belajar Membaca lewat Suku Kata
Model ini paling banyak digunakan, terutama di sekolah-sekolah. Prinsip dasarnya adalah terlebih dulu mengenali pola sebelum masuk pada fase membaca.

Belajar lewat suku kata misalnya ba bi bu be bo dan seterusnya juga memiliki efek tersendiri, diantaranya kecepatan membaca yang sedikit lambat jika tidak diiringi latihan langsung lewat buku atau bacaan-bacaan. Mengapa demikian? Karena anak-anak akan terbiasa dengan membaca pola lebih dulu baru membaca. Kerja otak kiri lebih dominan dalam hal tersebut.

Untuk mengimbanginya, kita harus lebih sering memotivasi anak untuk membaca kata-kata secara langsung lewat buku tanpa harus memilah suku katanya.

3.  Belajar membaca dengan mengeja
Model ini di awali dengan pengenalan huruf baru kemudian merangkainya menjadi gabungan huruf dan kemudian kata. Sebenarnya metode ini sudah jarang digunakan orang karena memang terbukti cukup sulit bagi anak.

Kerja otak kiri akan semakin dominan jika kita memakai metode ini. Anak-anak harus melewati tiga tahapan menuju kata, yaitu huruf, suku kata, lalu kata. Memang ada anak-anak yang bisa belajar dengan metode ini, tapi lagi-lagi latihan membaca kata secara intensif harus mengiringinya agar anak-anak merasa percaya diri untuk membaca.

Belajar Multi Metode

Adakalanya spesialisasi itu baik untuk mengenal kedalaman suatu ilmu, tapi dalam belajar membaca kita bisa mempergunakan multi metode sekaligus tanpa harus merasa tabu hanya karena teori yang kita peroleh dianggap paling rasional.

Dengan kata lain, kita bisa memperkenalkan pada anak-anak kita semuanya, huruf, suku kata, ataupun kosa kata. Catatan pentingnya tentu saja: sajikan dengan perasaan riang sehingga anak-anak kita pun mendeteksi kegembiraan dan ketulusan yang kita berikan pada mereka. Hal itu jauh lebih berarti dan lebih efektif daripada segudang metode terhebat sekalipun.

Tersisa dari itu semua, “kita memang tak boleh berhenti belajar”.

sumber -  http://pustakanilna.com

AddThis Social Bookmark Button